Seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina ditargetkan mulai menyalurkan bahan bakar minyak (BBM) jenis Biosolar B50 secara merata pada akhir September ini.
BBM B50 merupakan bahan bakar yang terdiri dari campuran 50 persen biodiesel atau Fatty Acid Methyl Ester (FAME) berbasis kelapa sawit dengan 50 persen solar fosil.
Direktur Pemasaran Ritel PT Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto mengungkapkan saat ini sebagian besar terminal BBM telah menyediakan stok B50. Penyalurannya di tingkat SPBU pun tercatat telah menyentuh angka 95 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, wilayah yang belum sepenuhnya menyalurkan B50 masih berada dalam fase transisi seperti Maluku dan Papua yang masih harus menghabiskan sisa stok Biosolar B40 yang stoknya masih cukup tinggi.
"Diharapkan akhir September kita sudah masuk ke B50 semuanya," ujar Eko dalam acara Pertamax Journey di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Jumat (11/9).
Selain menggenjot bauran energi pada mesin diesel, Pertamina juga terus memperluas penetrasi BBM bensin (gasoline) yang dicampur dengan bioetanol.
Dalam tiga tahun terakhir, distribusi BBM dicampur bioetanol melalui Pertamax Green 95 telah diperluas dan mencakup berbagai wilayah di Pulau Jawa.
Jangkauan pemasarannya meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat, hingga sebagian wilayah Jakarta.
Ke depan, Eko menyebut pemerintah tengah mematangkan regulasi untuk memperluas kewajiban penggunaan etanol.
Harapannya, seluruh produk bensin yang beredar di pasaran dapat dicampur dengan bahan bakar nabati tersebut secara bertahap.
"Rencananya juga saat ini pemerintah sedang menggodok kebijakannya dan insyaallah mungkin dalam 1-2 tahun ke depan semua produk gasolin akan berbasis etanol," ujar Eko.
Guna memuluskan rencana besar transisi energi tersebut, Pertamina bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta lembaga terkait lainnya tengah mengajukan permohonan insentif berupa pembebasan cukai untuk etanol yang berbasis bahan bakar.
(dhz/sfr)