Sepuluh produk pangan dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaan Kementerian Perdagangan siap menembus jaringan ritel AEON Indonesia.
Produk-produk terpilih ini akan masuk ke 19 gerai ritel AEON Indonesia yang terdiri atas pusat perbelanjaan AEON Mall dan jaringan pasar swalayannya di seluruh Indonesia.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengapresiasi keberhasilan menembus jaringan AEON sebagai bukti bahwa UMKM berdaya saing mampu memenuhi standar ritel modern.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mendag Busan menyampaikan hal itu setelah menghadiri "Launching Akses Pasar UMKM Pangan Kemasan ke AEON Indonesia" di AEON Mall BSD City, Kabupaten Tangerang, pada Rabu, (9/9).
"Kemendag bersama Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO), melalui AEON Indonesia, memberi akses kepada UMKM untuk memasarkan produk di jaringan ritel AEON Indonesia. Sinergi Kemendag dengan ritel modern menjadi upaya menjawab tantangan pembukaan pasar yang lebih luas bagi UMKM kita yang berkualitas," ujar Mendag Busan.
Masuknya ke sepuluh UMKM pangan ini ke jaringan AEON Indonesia ditandai dengan penandatanganan dua kerja sama. Pertama, nota kesepahaman (MoU) kerja sama strategis yang ditandatangani Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Iqbal Shoffan Shofwan dan Presiden Direktur PT AEON Indonesia Miyata Masato.
Kedua, kontrak dagang antara 10 UMKM pangan dan AEON Indonesia. Kesepuluh produk UMKM pangan yang masuk jaringan ritel AEON, yakni keripik jamur tiram, keripik tempe, bawang goreng premium, peyek, rendang kemasan, granola, brownies panggang, stik keju (cheese stick), kentang mustofa oven, dan kraker vegan panggang. Kesepuluh produk ini merupakan hasil kurasi ketat terhadap 121 UMKM unggulan binaan Kemendag yang menjadi pemenang UKM Pangan Award dan peserta pameran Pangan Nusa Expo.
"Kesepuluh UMKM yang masuk ke jaringan AEON Indonesia telah dikurasi ketat dari segi standar produk, legalitas, hingga konsistensi pasokan. Kami terus mendorong UMKM untuk berinovasi menghasilkan produk berkualitas sehingga mampu memenangkan pasar di dalam dan luar negeri," ujar Mendag Busan.
Masuknya 10 UMKM pangan ke jaringan AEON Indonesia dapat menjadi percontohan bagi penjajakan kemitraan UMKM dengan jaringan ritel AEON Indonesia. Mendag Busan mengungkapkan, terdapat upaya penjajakan UMKM yang disinergikan Kemendag dan AEON Indonesia melalui undangan terbuka (open call) kurasi pada 26 Agustus-1 September 2026. Lebih dari 1.200 UMKM sektor makanan, minuman, kecantikan, dan kesehatan mendaftar sebagai calon pemasok jaringan ritel AEON.
Saat ini, pasar swalayan (supermarket) AEON Indonesia diisi lebih dari 77 persen produk dalam negeri. AEON menjadi jalur distribusi potensial bagi pelaku usaha Indonesia, termasuk UMKM, khususnya pada sektor makanan, minuman, kecantikan (beauty care), dan kesehatan (health care).
Berdasarkan Statista, nilai pasar domestik untuk sektor makanan dan minuman diproyeksikan tumbuh ratarata 6,95 persen per tahun selama 5 tahun ke depan. Mendag Busan mengatakan, kemitraan UMKM dengan ritel modern menjadi strategi membangun momentum bagi produk UMKM makanan dan minuman.
Sepanjang 2025-2026, Kemendag telah memfasilitasi sebanyak 1.488 UMKM melalui program perluasan akses pasar dalam negeri, di antaranya melalui pameran pasar dalam negeri lewat Pangan Nusa Expo dan UKM Pangan Award Goes to Ritel Modern, penjajakan bisnis dengan pengusaha ritel dan department store, kemitraan dengan Kereta Api Indonesia (KAI) dan Teras Indonesia IKEA, serta berbagai fasilitasi promosi lainnya.
Presiden Direktur PT AEON Indonesia, Miyata Masato, mengapresiasi dorongan Kemendag terhadap pembukaan akses pasar produk pangan lokal berkualitas ke jaringan ritel modern. Menurut Miyata, AEON Indonesia berkomitmen untuk mendukung produk-produk lokal, termasuk UMKM, dengan bermitra dan memberikan ruang untuk UMKM.
"Kerja sama harmonis antara ritel dan UMKM akan berjalan baik dengan dukungan dari pemerintah. Kami berharap dukungan dari Kemendag dapat segera tumbuh lebih besar melalui pemberian akses, baik dalam bentuk finansial, pelatihan, maupun kemudahan dalam proses-proses perizinan. AEON Indonesia akan terus mendukung pertumbuhan UMKM di Indonesia dan mendukung pertumbuhan ekonomi di Indonesia secara lebih luas," ujar Miyata.
Miyata menyebut, AEON Indonesia telah bekerja sama dengan UMKM sejak 2015. Tercatat, AEON telah bekerja sama dengan lebih dari 100 mitra UMKM dengan lebih dari 500 Stock Keeping Unit (SKU) yang dipasarkan di jaringan AEON Indonesia.
Dari pengalaman 11 tahun bekerja sama dengan UMKM, Miyata menyebut terdapat tiga hal yang perlu menjadi pegangan UMKM dalam memperbesar usaha. Pertama, menjaga standar dan konsistensi kualitas produk.
Kedua, menetapkan harga yang tepat dan berkelanjutan. Ketiga, melakukan pemasaran yang proaktif dengan menyampaikan keunggulan produk melalui kemasan, cerita, sampling, dan promosi.
Peter Hutomo, co-owner keripik tempe Arva yang produknya berhasil masuk ke jaringan AEON Indonesia, mengapresiasi dukungan Kemendag terhadap produknya.
Sebelum masuk ke AEON, Arva telah mengikuti pameran baik di dalam maupun luar negeri melalui fasilitasi Kemendag.
"Harapan kami (dengan masuknya produk ke AEON Indonesia), Arva dapat lebih dikenal secara global, dari warga lokal dan internasional. Semoga melalui produk lokal kita, tempe, kita dapat mempersatukan dengan cita rasa luar sehingga wisatawan mancanegara bisa menikmati hasil dari pangan lokal kita," kata Peter.
Sementara itu, Supervisor Finance Rendang Gadih Salmi Nazila Salsabila turut menyambut baik dukungan Kemendag terhadap produknya. Rendang Gadih sudah mengikuti program Kemendag sejak 2017.
Sejumlah program yang diikuti Rendang Gadih, yakni di antaranya menjadi pemenang UKM Pangan Award 2017 lewat produk rendang tumbuk dan pemenang UKM Pangan Award 2024 lewat produk bumbu rendang instan. Produknya juga terpilih untuk dipromosikan lewat Product Placement Pilihan Busan dan telah mengikuti pameran baik di dalam maupun di luar negeri.
(tim)