Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengakui biaya produksi beras Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan Thailand dan Vietnam.
Ia menyebut salah satu penyebabnya adalah subsidi pemerintah yang relatif lebih kecil dibandingkan negara-negara tersebut.
"Di sana itu subsidi, saya dari Vietnam, saya bahkan dari Arkansas, Amerika, China, itu subsidinya 70-80 persen. Dan kalau kita bandingkan, sebenarnya sama kalau subsidi kita kecil banget dibanding negara lain," kata Amran di Kementerian Koordinator Bidang Pangan Jakarta Pusat, Senin (7/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Amran mengatakan ruang untuk menambah subsidi tetap terbentur kemampuan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Di sisi lain, pemerintah telah menyiapkan dukungan lain melalui tambahan SPHP jagung sebanyak 150 ribu ton untuk membantu pasokan di tingkat peternak.
Lihat Juga :ERUPSI ANAK KRAKATAU Update Penutupan 4 Bandara: Soetta dan Halim hingga Pukul 23.59 WIB |
"Enggak (subsidi diperbesar), cukuplah dulu. Ini kan APBN juga. Ada tambahan lagi SPHP jagung 150 ribu. Tapi Pak Menko (Zulkifli Hasan) benar, itu artinya di luar dari subsidi pemerintah," ujar Amran.
Pernyataan itu disampaikan Amran merespons perbandingan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan alias Zulhas mengenai ongkos produksi beras di sejumlah negara. Zulhas sebelumnya menyebut biaya menghasilkan 1 kilogram beras di Thailand dan Vietnam sekitar Rp3.800, sedangkan di Indonesia mencapai sekitar Rp12 ribu.
Menurut Zulhas, kesenjangan tersebut berkaitan dengan teknologi, penggunaan varietas baru, hingga manajemen pengolahan sawah yang membuat produktivitas negara lain lebih tinggi. Kondisi itu membuat biaya produksi pangan Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah.
"Negara tetangga kita dekat, Thailand, Vietnam itu, untuk dapat 1 kilo beras, dia hanya mengeluarkan biaya Rp3.800 (per kilogram). Kita untuk 1 kg beras, itu perlu biaya Rp12 ribu. Betapa kita kalah jauh tertinggal," ujar Zulhas dalam acara launching buku Pangan Indonesia: Dari Piring Sehat ke Manusia Unggul di JCC Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (4/9).
Selain beras, Zulhas menyoroti tingginya biaya produksi komoditas lain. Ia menyebut biaya menghasilkan 1 kilogram tebu di Lumajang mencapai sekitar Rp14 ribu, sementara di India dan Brasil disebut tidak sampai Rp4.000.
Lihat Juga :ERUPSI ANAK KRAKATAU Update Penutupan 7 Bandara Diperpanjang Imbas Erupsi Anak Krakatau |
Kesenjangan juga terlihat pada produktivitas kedelai. Zulhas mengatakan produksi kedelai Indonesia dengan bibit yang digunakan saat ini sekitar 1 ton per hektare, sementara negara yang mengembangkan rekayasa genetik dapat mencapai hingga 10 ton per hektare. Perbedaan produktivitas tersebut pada akhirnya turut membuat harga kedelai Indonesia bisa tiga hingga empat kali lebih mahal.
Zulhas juga menyinggung ketergantungan terhadap bibit impor yang menurutnya masih terjadi pada hampir seluruh tanaman pangan. Ia menilai persoalan biaya, produktivitas, teknologi, dan bibit tersebut saling berkaitan dan membentuk rantai persoalan yang belum selesai di sektor pangan.
Di sisi lain, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengakui pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tertinggal dibandingkan Vietnam. Namun, ia mengatakan karakter dan kompleksitas kedua negara berbeda, termasuk dari sisi kondisi makroekonomi.
Lihat Juga :ERUPSI ANAK KRAKATAU Penerbangan Internasional ke Soetta Dialihkan ke 5 Bandara Alternatif |
"Dari sisi pertumbuhan ekonomi, ya kita mungkin kalah sama Vietnam tadi disampaikan. Tapi kan karakter kita beda dengan Vietnam ya, kompleksitas juga masih beda," kata Destry dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Jakarta beberapa waktu lalu.
Destry mengatakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen pada semester I, dengan kondisi makroekonomi yang dinilai tetap terjaga. Ia mencontohkan inflasi Indonesia yang lebih terkendali dibandingkan Vietnam, meski pertumbuhan ekonomi negara tersebut lebih tinggi.
"Vietnam dia boleh ekonomi tinggi tapi inflasi dia di atas, 4,5-5 persen seperti itu," tuturnya.