Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kembali memangkas alokasi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada tahun ini hingga di bawah angka Rp200 triliun.
Langkah efisiensi tersebut dilakukan setelah berkoordinasi dengan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono. Ia menilai Sudaryono merupakan sosok yang kreatif dalam hal mengelola anggaran.
"Tahun ini (anggaran MBG dipangkas lagi sampai di bawah Rp200 triliun). Kepala BGN yang baru itu amat kreatif," ujar Purbaya ketika ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (7/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, Purbaya mengaku belum mengetahui detail angka pasti dari anggaran yang diefisiensikan kembali tersebut.
Lihat Juga :ERUPSI ANAK KRAKATAU Update Penutupan 4 Bandara: Soetta dan Halim hingga Pukul 23.59 WIB |
"Dia bilang dia bisa hemat lebih lanjut, tapi angka persisnya saya enggak tahu. Anda mesti tanya dia," ujar Purbaya.
Purbaya pernah mengungkap anggaran program MBG pada tahun ini sempat dialokasikan sebesar Rp330 triliun. Angka tersebut kemudian diefisiensikan menjadi sekitar Rp260 triliun, sebelum akhirnya kembali dipangkas ke Rp240 triliun.
Namun, setelah bicara bersama Sudaryono, anggaran MBG berpeluang dipangkas lagi hingga di bawah 200 triliun pada tahun ini.
"Saya bicara dengan kepala BGN yang baru sepertinya bisa dibuat lebih efisien lagi di bawah Rp200 triliun," ujar Purbaya dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Jakarta Pusat, Kamis (3/9).
Bahkan, anggaran tahun depan yang telah disiapkan sebesar Rp240 triliun berpeluang ditekan lebih rendah melalui pemanfaatan teknologi yang digunakan oleh BGN.
Sudaryono sendiri telah mengungkap kesiapan pihaknya untuk terus melakukan efisiensi pada program MBG.
"Ya, kami untuk di bawah Rp 200 triliun tahun depan, ya, Kalau memang dengan target yang kemudian disampaikan, itu kami berusaha untuk se-efisien mungkin," ujar Sudaryono di Gedung DPR Jakarta, Kamis (3/9) malam.
Sudaryono mengatakan akan kembali membahas bersama Menteri Keuangan maupun secara internal di BGN soal kemungkinan tersebut.
"Nanti kami coba bisa bahas lagi dengan Pak Menteri Keuangan dan juga kami bahas secara internal, kami hitung lagi," sambungnya.
Sementara itu, ia menyampaikan bahwa proses efisiensi anggaran MBG tahun ini masih terus dilakukan. Misalnya, terhadap dapur-dapur yang selama ini ternyata tidak beroperasi, tapi dicatat beroperasi.
"Nah, jadi dari (anggaran MBG) Rp229 triliun sisanya ini terus kami sisir, kami lacak. Ada enggak misalnya dapur-dapur yang selama ini ternyata tidak beroperasi, tapi dicatat beroperasi. Kalau di situ ada unsur pidana, kami kemudian terjunkan inspektorat, kemudian kami minta nanti kami melaporkan ke pihak kejaksaan untuk diperiksa," ujarnya.