Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman membeberkan dugaan praktik bermasalah pada beras fortifikasi yang menurutnya turut mendorong kenaikan harga beras dan menjadi salah satu penyumbang inflasi.
Ia mengatakan hasil pemeriksaan laboratorium Kementerian Pertanian menunjukkan 90 persen beras fortifikasi yang dicek bermasalah.
Amran mengatakan persoalan tersebut masih dalam proses penyelidikan. Namun, berdasarkan hasil pemeriksaan yang dia sebut, beras yang dipasarkan sebagai produk fortifikasi atau beras bervitamin justru ditemukan melanggar ketentuan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemarin salah satu kami cek ya karena stok (beras Bulog) banyak kan, berarti bukan karena stok, kan beras banyak. Masalahnya adalah, sementara kita selidiki, tapi sesuai hasil lab 90 persen yang kita cek, (beras) fortifikasi melanggar," kata Amran di Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi Sukamandi, Subang, Rabu (2/9).
Menurutnya, masalah tersebut semakin terlihat dari disparitas harga. Amran menyebut ada beras fortifikasi yang dijual hingga Rp56 ribu dan Rp42 ribu per kilogram (kg), sementara rata-ratanya sekitar Rp22 ribu per kg.
"Bayangkan itu disampaikan bahwa (beras) fortifikasi ini katakanlah beras bervitamin ternyata tidak ada (vitaminnya), dan dijual harga ada Rp56 ribu ada Rp42 ribu (per kg) rata-ratanya Rp22 ribu, dia jualkan. Katakanlah harga Rp13 (ribu), itu selisihnya Rp22 ribu per kg," ujarnya.
Amran lantas mengaitkan selisih harga tersebut dengan kenaikan harga beras yang pada akhirnya dapat berkontribusi terhadap inflasi. Ia mencontohkan beras yang seharusnya dijual sekitar Rp13.500 per kg tetapi dipasarkan hingga Rp40 ribu.
"Kalau itu 1 juta ton itu kan Rp22 triliun, benar enggak? 1 juta ton. Kasihan jadi ini penipuan kan. Nah, ini menambah luar biasa menambah kan, harusnya harganya Rp13.500, dia jual Rp40 ribu menurut Anda menambah inflasi enggak? Penyumbang enggak?," kata Amran.
Ia juga menilai praktik tersebut merugikan konsumen lantaran harga yang dibayarkan jauh lebih tinggi dari harga beras biasa.
"Sangat melanggar, sangat merugikan rakyat karena mendongkrak naik harga. Bayangkan per kilo selisih Rp22 ribu, selisih Rp20 ribu, ini bukan harga keuntungan tapi penipuan. Iya kan," ujarnya.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat beras kembali menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi pada Agustus 2026.
BPS mencatat beras mengalami inflasi sebesar 0,42 persen dengan andil 0,02 persen terhadap inflasi nasional. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan kenaikan tersebut antara lain dipengaruhi penurunan potensi luas panen dan produksi beras bulanan setelah melewati puncak panen raya.
"Inflasi beras ini juga dipengaruhi terutama oleh faktor distribusi beras ke pasar nya. Terutama pada beberapa wilayah di Indonesia kan ada sentra produksinya, ada juga yang non sentra produksinya," kata Ateng dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta Pusat, Selasa (1/9).
Ateng mengatakan potensi luas panen dan produksi beras diperkirakan menurun pada Agustus 2026. Pasokan gabah maupun beras yang masuk ke tempat penggilingan pada periode tersebut juga lebih terbatas dibandingkan saat puncak panen raya.
Untuk periode Agustus-Oktober 2026, luas panen diproyeksikan mencapai 3,07 juta hektare, atau menyusut sekitar 0,04 juta hektare dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Meskipun angka proyeksi-proyeksi kumulatif hingga Oktober berada dalam kondisi relatif aman ya, pasokan untuk yang gabah beras harian yang masuk ke penggilingan pada periode ini cenderung lebih terbatas jika dibandingkan dengan pada saat terjadinya puncak panen," jelas Ateng.
Di tingkat penggilingan, rata-rata harga beras naik 1,32 persen secara bulanan dan 5,52 persen secara tahunan. Jika berdasarkan kualitas, harga beras premium naik 1,22 persen secara bulanan dan 10,07 persen secara tahunan, sedangkan beras medium naik 1,48 persen secara bulanan dan 4,03 persen secara tahunan.
"Jadi secara year-on-year untuk beras premium kenaikan ya lebih tinggi dibandingkan dengan beras medium," lanjut Ateng.
Sementara di tingkat grosir, beras mengalami inflasi 0,80 persen secara bulanan dan 4,28 persen secara tahunan. Harga rata-rata beras di tingkat grosir naik menjadi Rp14.901 per kilogram dari Rp14.783 per kilogram pada bulan sebelumnya.
Di tingkat eceran, beras mengalami inflasi 0,42 persen secara bulanan dan 2,77 persen secara tahunan. Harga rata-rata beras mencapai Rp15.641 per kilogram, naik dari Rp15.575 per kilogram pada April 2026.
"Harga beras yang kami sampaikan merupakan harga rata-rata beras yang mencakup berbagai jenis kualitas dan juga mencakup seluruh wilayah di Indonesia," imbuh Ateng.