KLH Sebut Potensi Kerugian Karhutla Rp5,3 T Periode 2023-2025
Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) mencatat 32 perkara kebakaran hutan dan lahan (karhutla) periode 2023-2025 yang belum selesai berpotensi menimbulkan kerugian lingkungan hidup mencapai Rp5,30 triliun.
Deputi Penegakan Hukum KLH/BPLH Irjen Pol Rizal Irawan mengatakan angka tersebut merupakan potensi kerugian lingkungan hidup dari perkara-perkara karhutla yang masih dalam proses.
"Periode 2023 sampai 2025, perkara yang belum selesai total ada 32 perkara, dengan potensi kerugian lingkungan hidup sebesar Rp5,30 triliun," ujar Rizal dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (31/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rizal mengatakan penanganan perkara karhutla dilakukan melalui tiga jalur, yakni sanksi administratif, sengketa lingkungan hidup atau gugatan perdata, serta proses pidana.
Lihat Juga : |
"Perkara pidana akan ditangani oleh penyidik dari Polri, mulai dari tingkat Polda, Polres, maupun Mabes Polri," katanya.
Sementara itu, sepanjang Januari hingga Agustus 2026, KLH/BPLH telah mengambil tindakan pengawasan terhadap 19 perusahaan yang tersebar di tujuh provinsi. Tindakan tersebut meliputi pemasangan plang pengawasan, penyegelan, serta tindakan lain oleh Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup (PPLH).
Dari 19 perusahaan tersebut, tujuh berada di Kalimantan Barat dengan total area terbakar 2.260,08 hektare. Kemudian empat perusahaan berada di Sumatera Selatan dengan luas area terbakar 772,72 hektare.
Di Kalimantan Selatan terdapat tiga perusahaan dengan total area terbakar 6.595,15 hektare. Luasan tersebut menjadi yang terbesar dibandingkan wilayah lain yang disebutkan KLH/BPLH.
Selanjutnya, dua perusahaan berada di Kalimantan Tengah dengan total area terbakar 99,40 hektare. Satu perusahaan di Lampung tercatat memiliki area terbakar 202,73 hektare, sementara satu perusahaan di Riau memiliki area terbakar sekitar 7,10 hektare.
Secara keseluruhan, 19 perusahaan yang diawasi KLH/BPLH tersebut tersebar di wilayah Sumatera dan Kalimantan dengan total area terbakar sekitar 11.046,69 hektare.