BPS Respons Tukang Becak Kulon Progo Masuk Desil 9: Kini Jadi Desil 3

CNN Indonesia
Jumat, 28 Agu 2026 18:31 WIB
Tricycle drivers attend an outdoor movie screening held by a private organization, where cash and food donation are distributed to help them get by amid a tourism slump caused by the coronavirus disease (COVID-19) outbreak, in Phnom Penh, Cambodia Ja
BPS perbarui status desil warga Kulon Progo dari desil 9 menjadi desil 3, setelah pemutakhiran data sosial ekonomi agar mencerminkan kondisi nyata. (FOTO:REUTERS/CINDY LIU).
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pusat Statistik (BPS) merespons kabar sopir becak motor di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tercatat sebagai kelompok desil 9 dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).

BPS menyebut data warga tersebut kini telah dimutakhirkan dan status desilnya berubah menjadi desil 3. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan perubahan tersebut terjadi setelah dilakukan pemutakhiran data sesuai kondisi terbaru warga di lapangan.

"Kan sudah, sudah dimutakhirkan sekarang dia ada di desil 3," ujar Amalia kepada wartawan di kediaman Ketua MPR RI Jakarta Selatan, Jumat (28/8).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Amalia menjelaskan data sosial ekonomi masyarakat bersifat dinamis sehingga pemutakhiran diperlukan untuk memastikan data mencerminkan kondisi sebenarnya.

"Jadi kuncinya adalah pemutakhiran menjadi kunci supaya datanya sesuai dengan fakta yang terbaru," katanya.

Dia menegaskan pemutakhiran data menjadi bagian penting untuk menyesuaikan data masyarakat dengan kondisi terkini.

[Gambas:Youtube]

Sebelumnya, Timbul (49), warga Ngentakrejo, Lendah, Kulon Progo, mengaku terkejut ketika mengetahui dirinya masuk desil 9 dalam DTSEN. Sehari-hari, Timbul bekerja sebagai sopir becak motor di kawasan Malioboro, Yogyakarta.

Timbul mengatakan penghasilannya dari menarik becak motor tidak menentu, dilansir dari . Dia mengaku bisa membawa pulang keuntungan bersih sekitar Rp50 ribu dalam sehari ketika mendapatkan penumpang.

Status desil 9 tersebut diketahui ketika Timbul hendak mengurus surat keterangan tidak mampu untuk membantu biaya kuliah putranya di Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

"Anak saya mau cari surat keterangan tidak mampu ke balai desa. Tapi, ternyata di sana dicek sama Pak Lurah ternyata desilnya 9," kata Timbul saat ditemui di kediamannya, Senin (24/8).

Padahal, Timbul mengaku sebelumnya tercatat dalam desil 1 dan telah menerima sejumlah bantuan sosial pemerintah.

"Penghasilan dari betor ini enggak menentu, kadang bisa narik, kadang enggak. Seharian enggak dapat sama sekali sering," ujarnya.

(lau/ins)