Sekolah Beralih Daring Gegara Kabut Asap, Bagaimana Nasib MBG?
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengungkap nasib program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah yang terdampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sudaryono menyebut MBG tidak dibagikan ke sekolah-sekolah yang terpaksa memberlakukan pembelajaran online atau daring akibat karhutla.
"Selama (karhutla) kan tidak masuk sekolah, itu tidak kami berikan MBG," ujarnya di kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Rabu (26/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sudaryono menjelaskan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di beberapa wilayah terdampak memang sempat membagikan MBG di tengah kepungan asap karhutla.
Lihat Juga : |
Menurutnya, hal tersebut dilakukan lantaran petugas baru menerima informasi kegiatan pembelajaran diubah jadi daring ketika seluruh makanan sudah selesai dimasak.
Akhirnya, SPPG berkoordinasi bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), kepala daerah, dan kepala sekolah untuk mekanisme pembagiannya. Salah satu solusinya adalah memperbolehkan orang tua siswa untuk datang mengambil langsung jatah MBG anak mereka.
"Kemudian diambil tindakan misalnya orang tuanya ambil dan seterusnya, tapi setelah itu hari berikutnya ga ada lagi karena memang sekolahnya libur karena adanya kabut asap," ujar Sudaryono.
Sudaryono pun telah mengirimkan surat edaran resmi ke seluruh SPPG di daerah terdampak asap karhutla mengenai tidak adanya pembagian MBG ke sekolah yang memberlakukan pembelajaran daring.
Pontianak adalah salah satu pemerintah daerah yang memberlakukan pembelajaran jarak jauh secara online alias daring bagi murid PAUD/TK, SD, SMP dan pendidikan sejak Senin (24/8) imbas kabut asap karhutla di Kalimantan Barat.
Kebijakan pembelajaran selama status siaga darurat kabut asap itu tertuang dalam surat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak Nomor B/400.7.15/1028/DISDIKBUD/2026 tertanggal 21 Agustus 2026.
Surat tersebut ditujukan kepada kepala PAUD/TK, SD, SMP, dan pendidikan yang mencakup negeri maupun swasta di Kota Pontianak. Pembelajaran tatap muka dapat kembali dilaksanakan apabila kualitas udara sudah kembali membaik.
(dhz/pta)