Purbaya Mau Evaluasi Efek Kerja Sama Perdagangan Bebas ke Industri RI

CNN Indonesia
Kamis, 20 Agu 2026 20:54 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mendukung wacana penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa dari keluarga mampu.
Menkeu Purbaya mendorong evaluasi dampak perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Agreement/FTA) terhadap industri dalam negeri. (CNN Indonesia/Dela Naufalia)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mendorong evaluasi dampak perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Agreement/FTA) terhadap industri dalam negeri.

Ia ingin pemerintah tidak hanya mengidentifikasi sektor yang tertekan akibat liberalisasi perdagangan, tetapi juga menentukan industri yang masih bisa diselamatkan dan dikembangkan.

Kementerian Keuangan (Kemenkeu), sambung Purbaya, perlu melakukan analisis lebih mendalam terhadap sektor-sektor industri yang terdampak FTA. Hasil analisis tersebut nantinya menjadi dasar pemerintah menentukan intervensi yang tepat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Analisis yang masih bisa diselamatkan, untuk dua pilihan terakhir langkah kita apa, Kemenkeu bisa apa, itu yang saya butuhkan," ujar Purbaya saat menjadi keynote speaker dalam acara Free Trade Agreements on Indonesia Industrialization and Economic Performance di Kementerian Keuangan, Kamis (20/8).

Menurut Purbaya, pemerintah setidaknya perlu melihat tiga kemungkinan terhadap industri yang terdampak perdagangan bebas. Pertama, membiarkan industri tersebut berhenti atau mati.

Kedua, membiarkan industri bertahan secara perlahan tanpa intervensi besar. Ketiga, memberikan perlindungan dan dukungan agar industri tersebut kembali tumbuh.

Purbaya menilai pemetaan tersebut penting agar pemerintah tidak menerapkan kebijakan yang sama terhadap seluruh sektor industri.

Industri yang sudah tidak memiliki prospek perlu diidentifikasi. Sementara sektor yang masih memiliki peluang untuk berkembang harus mendapatkan strategi dan dukungan yang sesuai.

Purbaya mengatakan pendekatan Kemenkeu akan diubah mulai September mendatang. Pemerintah akan lebih aktif menggali berbagai potensi ekonomi, termasuk peluang yang muncul dari kerja sama perdagangan bebas.

"Bulan September ke depan kita ubah approach Kemenkeu dari potensi ekonomi termasuk free trade agar pertumbuhan ekonomi bisa laju kencang minimal di 6 persen di akhir 2026," jelasnya.

Ia menilai Indonesia sebenarnya telah memiliki pengalaman dalam menghadapi liberalisasi perdagangan. Karena itu, pemerintah seharusnya dapat memetakan sejak awal sektor industri yang berpotensi tertekan ketika akses pasar semakin terbuka.

Namun, Purbaya menekankan bahwa FTA tidak semestinya hanya dipandang sebagai ancaman bagi industri dalam negeri. Perjanjian perdagangan bebas juga dapat menjadi pintu untuk membuka pasar baru dan meningkatkan daya saing produk Indonesia.

Selain industri yang sudah ada, Purbaya meminta pemerintah memperhatikan sektor baru yang memiliki prospek pertumbuhan tinggi meskipun belum menjadi kekuatan utama Indonesia saat ini.

Salah satu sektor yang disorot adalah pusat data (data center). Menurutnya, Indonesia memiliki peluang besar untuk menarik investasi pusat data, tetapi peluang tersebut harus ditopang ketersediaan energi.

Purbaya juga melihat peluang dari kerja sama perdagangan Indonesia dengan Eropa, khususnya untuk produk yang menggunakan energi baru terbarukan (EBT).

Menurutnya, penggunaan energi terbarukan dapat meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar Eropa.

Sektor tekstil dan alas kaki menjadi salah satu industri yang dinilai berpotensi memanfaatkan peluang tersebut.

Purbaya bahkan membuka kemungkinan memperkuat investasi pembangkit listrik tenaga panas bumi melalui PT Geo Dipa Energi untuk memasok kebutuhan energi kawasan industri.

"Saya kan punya Geo Dipa, saya bisa drill lebih banyak geotermal, saya invest di situ untuk memberi energi ke suatu pusat industri tekstil atau industri tekstil yang sudah ada, sehingga dia bisa ekspor ke Eropa dengan lebih kompetitif," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

(ldy/sfr)