Trump: Negara yang Bantu Iran Bakal Hadapi Konsekuensi Ekonomi Berat

CNN Indonesia
Kamis, 20 Agu 2026 19:50 WIB
U.S. President Donald Trump points his finger during a cabinet meeting in the Cabinet Room at the White House, in Washington, D.C., U.S., May 27, 2026. REUTERS/Evan Vucci
Trump mengancam memberi konsekuensi ekonomi sangat berat ke negara yang membantu Iran. Ancaman itu masuk dalam operasi ekonomi terbaru untuk mengisolasi Teheran. (Foto: REUTERS/Evan Vucci)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan memberi konsekuensi ekonomi sangat berat kepada negara-negara yang membantu atau berbisnis dengan Iran.

Ancaman itu masuk dalam operasi ekonomi besar-besaran terbaru AS untuk mengisolasi Iran. Trump sesumbar bahwa operasi tersebut bakal menjadi perang ekonomi paling menghancurkan dan isolasi dengan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

"Setiap negara yang mengizinkan lembaga keuangan, perusahaan, bandara, atau entitas pemerintahnya memberikan bantuan dalam bentuk apa pun kepada Iran akan menghadapi konsekuensi ekonomi yang luar biasa berat," tulis Trump di Truth Social, Kamis (20/8).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, Trump tidak menjelaskan secara spesifik hukuman yang akan dikenakan terhadap negara yang membantu atau berbisnis dengan Iran tersebut.

Tekanan ekonomi yang semakin intensif terhadap Iran ini dilakukan Trump ketika perang memasuki bulan keenam. Hingga kini belum terlihat jalan keluar diplomatik maupun militer dalam waktu dekat.

Pengumuman operasi ekonomi ala Trump itu disampaikan hampir sepekan setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Washington akan memberlakukan isolasi ekonomi terhadap Iran.

Meski aksi saling serang baru-baru ini mereda, Iran masih menerapkan blokade efektif terhadap pelayaran melalui Selat Hormuz. Blokade dilakukan setelah kesepakatan sementara AS-Iran untuk membuka kembali jalur strategis tersebut gagal tercapai.

Dalam beberapa hari terakhir, kedua pihak mengatakan masih saling bertukar pesan.

Namun pada Selasa lalu (19/8) Trump menegaskan pembicaraan telah dihentikan. Ia juga mengunggah pesan di media sosial yang mengisyaratkan bahwa Selat Hormuz dapat menjadi 'wilayah baru AS'.

[Gambas:Video CNN]

(pta/sfr)