Airlangga: Emas di Bawah Bantal Ada 1.800 Ton, Nilainya Rp4,47 T
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan potensi emas yang masih disimpan 'di bawah bantal' oleh masyarakat sangat besar. Jumlahnya disebut mencapai 1.800 ton atau senilai US$252 miliar (Rp4,47 triliun dengan asumsi Rp17.747 per dolar AS).
"Emas yang ada di bawah bantal itu ada 1.800 ton. Nah kalau 1.800 ton, itu nilainya juga luar biasa, US$ 252 miliar," ujar Airlangga dalam peluncuran Indonesia Bullion Market Association (IBMA) di BSI Tower, seperti dikutip Detik pada Kamis (20/8).
Airlangga menilai potensi tersebut dapat menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru bagi ekosistem logam mulia (bullion) di Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengungkapkan sejak Presiden Prabowo Subianto meluncurkan bullion bank, Pegadaian tercatat baru memiliki sekitar 153 ton emas senilai sekitar US$20 miliar. Sementara, Bank Syariah Indonesia (BSI) memiliki sekitar 20 ton emas.
Menurut Airlangga, apabila 20 persen saja dari emas yang saat ini masih disimpan masyarakat dapat dialihkan ke instrumen keuangan atau perbankan syariah dan Pegadaian, dampaknya ke pertumbuhan ekosistem bullion akan sangat besar.
"Bagaimana tugasnya dari Pegadaian maupun BSI, yang US$ 252 billion ini, mungkin 20 persen saja pindah dari ditaruh di bawah bantal ke ditaruh ke instrumen keuangan ataupun instrumen perbankan di Syariah maupun Pegadaian, nah ini sebuah pertumbuhan yang luar biasa kalau itu bisa kita lakukan," tuturnya.
Ia kemudian membandingkan stok emas Indonesia dengan raksasa ekonomi dunia. Tercatat, Amerika Serikat (AS) memiliki stok emas sekitar 8.133 ton dan China mencapai 2.331 ton.
Airlangga menilai dengan kepemilikan sekitar 1.800 ton, Indonesia berada di bawah kedua negara tersebut dan lebih tinggi dibandingkan India yang memiliki sekitar 880 ton.
"Kalau Indonesia 1.800 (ton), itu udah langsung di bawah mereka (China dan AS) semua. Karena, India 880 ton dan Singapura tentu punya juga relatif lebih rendah dari itu," sebut dia.
Pemerintah, sambung Airlangga, terus mendorong kebijakan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia. Terlebih, stok emas yang berada di Bank Indonesia (BI) masih relatif rendah, yakni baru sekitar 70 ton.
"Pemerintah terus mendorong kebijakan hilirisasi, kemudian bapak presiden kemarin juga menyampaikan dalam pidatonya terkait dengan bullion bank, sehingga bullion ini menjadi sesuatu yang diandalkan ke depan, terutama untuk meningkatkan nilai tambah daripada hilirisasi di sektor mine and energy," ujarnya.
(detik/sfr)