Harga Minyak Dunia Mendaki ke US$91,87 saat Pasar Cermati Arah Perang

CNN Indonesia
Kamis, 20 Agu 2026 09:55 WIB
Oil Refinery, Chemical & Petrochemical plant abstract at night.
Presiden AS Donald Trump pada Selasa (18/8), mengatakan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran dan menyebut Selat Hormuz terbuka. Namun, Iran menyatakan jalur perairan tersebut masih ditutup. Data pelayaran pada Rabu (19/8), menunjukkan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz melambat. Sebagian besar pemilik kapal menghindari jalur strategis tersebut karena belum adanya sinyal yang jelas mengenai pembukaan kembali jalur yang diblokade selama perang Iran. Ilustrasi (iStock/zorazhuang).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak bergerak tipis pada perdagangan awal Kamis (20/8), saat investor mencermati perkembangan perang Amerika Serikat (AS)-Iran serta keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Mengutip Reuters, harga minyak Brent berjangka kontrak pengiriman Oktober naik 25 sen atau 0,3 persen menjadi US$91,87 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS kontrak September turun tipis 2 sen menjadi US$85,81 per barel.

Kontrak WTI Oktober yang lebih aktif naik 14 sen atau 0,2 persen menjadi US$84,53 per barel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Harga Brent dan WTI sama-sama mencatat kenaikan untuk sesi keempat berturut-turut pada Rabu (19/8). Kedua acuan tersebut ditutup pada level tertinggi sejak 24 Juli. Kontrak WTI September akan berakhir pada Kamis (20/8).

"Harga minyak tetap tinggi karena pasar didukung oleh serangan sporadis di Timur Tengah, tetapi belum memiliki momentum baru tanpa eskalasi besar," ujar Chief Strategist Nissan Securities Investment, Hiroyuki Kikukawa.

Menurut Kikukawa, harga minyak berpeluang melanjutkan tren kenaikan secara bertahap seiring ketidakpastian pembicaraan damai dan meningkatnya ketegangan yang melibatkan Uni Emirat Arab (UEA), Oman, dan Iran.

[Gambas:Youtube]

Keputusan UEA untuk menangguhkan seluruh transaksi keuangan dan ekonomi dengan Iran hingga waktu yang belum ditentukan kembali menyoroti hubungan yang tegang antara salah satu produsen minyak utama Teluk tersebut dan Iran.

Di sisi lain, ketidakpastian terkait kondisi Selat Hormuz masih menjadi perhatian pasar.

Presiden AS Donald Trump pada Selasa (18/8), mengatakan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran dan menyebut Selat Hormuz terbuka. Namun, Iran menyatakan jalur perairan tersebut masih ditutup.

Data pelayaran pada Rabu (19/8), menunjukkan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz melambat. Sebagian besar pemilik kapal menghindari jalur strategis tersebut karena belum adanya sinyal yang jelas mengenai pembukaan kembali jalur yang diblokade selama perang Iran.

Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak global. Gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan tersebut berpotensi menghambat pasokan energi dan meningkatkan risiko kenaikan harga minyak.

Dari Amerika Serikat, data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah dan bensin meningkat pada pekan lalu, sementara stok produk sulingan turun.

Persediaan minyak mentah AS naik 4,4 juta barel pada pekan yang berakhir 14 Agustus. Angka tersebut berbanding terbalik dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan penurunan sekitar 600 ribu barel.

Kenaikan stok minyak mentah AS menjadi salah satu faktor yang membatasi penguatan harga minyak, di tengah sentimen pasar yang masih dipengaruhi perkembangan konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

(ldy/ins)