Bapanas Ungkap Alasan Harga Beras Terus Naik Meski Stok Melimpah

CNN Indonesia
Selasa, 18 Agu 2026 18:15 WIB
Pedagang menakar beras pesanan pembeli di Pasar Tradisional Masomba, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (5/8/2025). Setelah sempat naik selama sepekan dari rata-rata Rp14 ribu menjadi Rp18 ribu perkilogram, harga beras di tingkat pengecer di wilayah itu k
Bapanas mengungkap alasan harga beras masih naik di sejumlah daerah meski penguasaan beras oleh Perum Bulog cukup besar. (Foto: ANTARA FOTO/BASRI MARZUKI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengungkap alasan harga beras masih naik di sejumlah daerah meski penguasaan beras oleh Perum Bulog cukup besar.

Bapanas menilai persoalannya bukan semata pada ketersediaan stok, tetapi juga pada seberapa cepat beras tersebut didistribusikan untuk mengintervensi harga di pasar.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan Bulog perlu mempercepat dan memperluas penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), terutama ke pasar, serta memastikan bantuan pangan alokasi Juli-September tersalurkan tepat waktu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karena kalau teman-teman (Bulog) kebanyakan (menyalurkan beras SPHP) di RPK kemudian di pasarnya sedikit, tentu IPH (indeks perkembangan harga)-nya akan naik. Oleh karena itu tolong pakai strategi agar masifkan di pasar-pasar untuk SPHP di bulan Agustus, September dan Oktober ini dan seterusnya," kata Ketut dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, Selasa (18/8).

Menurut Ketut, penyaluran SPHP yang terlalu banyak melalui Rumah Pangan Kita (RPK) sementara distribusi ke pasar masih terbatas dapat membuat intervensi terhadap harga tidak optimal. Karena itu, Bulog diminta memprioritaskan pasar sebagai lokasi penyaluran SPHP.

Selain SPHP, bantuan pangan untuk alokasi tiga bulan juga dinilai perlu disalurkan sesuai penugasan. Ketut mengatakan kedua intervensi tersebut jika dilakukan tepat waktu semestinya dapat membantu mengendalikan IPH beras di daerah.

Ketut juga meminta pemerintah daerah (pemda) memantau harga beras setiap hari dan berkoordinasi dengan Bulog ketika terjadi kenaikan harga.

Ia mengatakan pemerintah akan mengganti biaya distribusi SPHP yang dikeluarkan Bulog. Penggantian tersebut berlaku untuk berbagai moda transportasi, mulai dari kereta, kendaraan umum, feri, kontainer hingga pesawat.

"Bulog di manapun mendistribusikan beras SPHP akan diganti oleh pemerintah. Mau naik kereta, mau naik kendaraan umum, mau nyewa, mau naik feri, mau naik kontainer, mau naik pesawat pun diganti oleh pemerintah," ujarnya.

Dengan skema tersebut, Ketut mengatakan tidak ada alasan bagi Bulog untuk tidak melakukan intervensi, kecuali terdapat kendala keamanan. Untuk kondisi tersebut, Bulog dapat berkoordinasi dengan Polri dan TNI.

Ketut kembali mengingatkan Bulog agar memanfaatkan penguasaan beras yang besar sebagai instrumen intervensi harga. Ia menilai stok yang besar perlu diikuti distribusi yang cepat ke wilayah yang mengalami kenaikan harga.

Bapanas meminta Bulog tak hanya mengandalkan besarnya penguasaan stok, tetapi memastikan beras tersebut segera masuk ke wilayah dan pasar yang membutuhkan.

"Jadi sekali lagi mohon karena kalau setiap minggu kita melihat IPH beras terus, mestinya kita agak malu, ini karena kita menguasai beras banyak tapi harusnya segera bisa kita lakukan intervensi secepatnya di manapun di Indonesia," ujar Ketut.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan harga beras masih naik hingga minggu kedua Agustus 2026. Rata-rata harga beras medium secara nasional mencapai Rp14.515 per kilogram (kg), naik 0,23 persen dibandingkan rata-rata Juli yang sebesar Rp14.481 per kg.

Sementara itu, rata-rata harga beras premium mencapai Rp16.363 per kg, naik 0,20 persen dibandingkan Juli yang sebesar Rp16.330 per kg.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan kenaikan tersebut memang relatif tipis, tetapi terjadi baik pada beras medium maupun premium.

"Baik untuk beras medium maupun beras premium, ini mengalami peningkatan harga walaupun kecil tipis peningkat harganya. Untuk beras medium sampai dengan minggu kedua di Agustus 2026 meningkat 0,23 persen, beras premium meningkat 0,20 persen posisi minggu kedua dibandingkan dengan di bulan Juli yang lalu," kata Ateng dalam kesempatan yang sama.

Selain persoalan distribusi, BPS mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai potensi El Nino dan kekeringan yang diperkirakan terjadi pada September hingga Desember 2026.

Ateng mengatakan prediksi tersebut mengacu pada informasi BMKG mengenai potensi El Nino yang juga disertai fenomena Indian Ocean Dipole (IOD). Kondisi curah hujan yang rendah berpotensi kembali mendorong kenaikan harga beras.

"Karena kalau kita cermati, kita pernah mengalami inflasi yang cukup tinggi pada saat adanya El Nino. Ingat di tahun 2023 yang lalu pada saat adanya curah hujan yang rendah atau identik dengan El Nino, itu terutama terjadi pada bulan September, dan di bulan September tersebut ini terjadi inflasi yang cukup tinggi untuk beras, yaitu 5,61 persen," kata Ateng.

Menurut Ateng, beras memiliki kontribusi cukup besar terhadap inflasi. Pada Februari, inflasi beras juga tercatat mencapai 5,32 persen.

Karena itu, pemerintah diminta mencermati perkembangan harga beras dalam beberapa bulan ke depan, terutama ketika curah hujan diperkirakan relatif rendah.

[Gambas:Youtube]

(del/pta)