EDUKASI KEUANGAN

Seluk Beluk ETF Emas, Cara Beli hingga Risikonya

Laurent Nabila Zahra Tanjung | CNN Indonesia
Sabtu, 15 Agu 2026 09:00 WIB
ilustrasi bank emas.
Peluncuran ETF emas di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (10/8) lalu menambah pilihan masyarakat untuk berinvestasi pada aset emas. Ilustrasi. (istockphoto/brightstars).
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Peluncuran ETF emas di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (10/8) lalu menambah pilihan masyarakat untuk berinvestasi pada aset emas.

Instrumen tersebut berbentuk reksa dana yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa dengan emas fisik sebagai aset dasar (underlying).

Dalam ekosistem ETF emas Indonesia, PT Pegadaian (Persero) berperan sebagai penyedia aset dasar melalui Electronic Gold Receipt (EGR). Satu gram emas direpresentasikan oleh 1.000 EGR.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, apa sebenarnya ETF emas, bagaimana cara memilikinya, dan apakah instrumen ini lebih menarik dibandingkan emas fisik, digital, atau perhiasan?

Apa itu ETF Emas?

Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho menjelaskan ETF emas merupakan produk reksa dana yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa, sehingga investor mendapatkan eksposur terhadap pergerakan harga emas tanpa harus menyimpan emas secara fisik.

"ETF emas adalah produk investasi gabungan reksa dana dan saham, di mana unit penyertaannya diperdagangkan di bursa efek dengan aset dasar (underlying asset) berupa emas fisik atau saham perusahaan tambang emas," kata Andi kepada CNNIndonesia.com, Jumat (14/8).

Menurut Andi, mekanisme pembeliannya pun serupa dengan saham. Investor perlu membuka rekening efek di perusahaan sekuritas, menyetor modal, lalu memasukkan pesanan melalui aplikasi perdagangan selama jam bursa.

Minimum pembelian ETF emas, kata dia, adalah satu lot atau 100 unit.

Beda ETF dengan Emas Fisik, Digital dan Perhiasan

Andi mengatakan perbedaan utama keempat instrumen tersebut terletak pada cara investor memiliki dan menyimpan emas.

Pada emas batangan, investor benar-benar memegang aset fisik. Hal ini membuat emas dapat digunakan sebagai cadangan dana ketika diperlukan, tetapi investor harus menyediakan tempat penyimpanan yang aman.

Sementara emas digital menawarkan kemudahan karena dapat dibeli secara bertahap dan investor tidak perlu menyimpan emas sendiri. Namun, investor perlu memperhatikan kredibilitas pihak yang menyimpan emas tersebut.

Adapun emas perhiasan memiliki fungsi tambahan sebagai barang konsumsi atau aksesori.

Karena terdapat biaya desain, peleburan, dan pencetakan ulang, nilai yang diterima ketika dijual kembali dapat lebih rendah.

"Karena tidak ada bentuk dan gramasi yang baku, maka ketika dijual lagi bisa berpotensi dihargai lebih murah oleh toko pembeli karena di-charge biaya peleburan dan cetak ulang," ujar Andi.

Sementara pada ETF emas, investor tidak menerima emas fisik. Investor memiliki unit penyertaan yang diperdagangkan di BEI, sedangkan emas menjadi aset dasar produk tersebut.

"ETF emas yang dibeli adalah unit-unit reksa dana yang pergerakan harga dan perdagangannya mirip saham, bukan fisik emasnya," jelasnya.

Risiko dan Prospek ETF Emas

Perencana Keuangan OneShildt Financial Planning Budi Rahardjo menilai karakter tersebut membuat ETF emas lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari diversifikasi portofolio, terutama bagi investor yang sudah memiliki aset lain.

"ETF emas cocok sebagai instrumen diversifikasi portofolio penyeimbang instrumen yang agresif dan volatil seperti saham," kata Budi.

Menurut dia, investor yang memilih ETF emas sebaiknya sudah cukup familiar dengan perdagangan bursa dan memahami manfaat sekaligus risikonya. Dari sisi profil, instrumen ini lebih sesuai bagi investor moderat dengan orientasi jangka panjang.

Budi juga menilai salah satu keunggulan ETF emas dibandingkan emas fisik adalah aspek penyimpanan. Investor tidak perlu menyimpan emas batangan sendiri, sementara perlindungan investor mengikuti regulasi pasar modal.

Namun, ia mengingatkan masyarakat tidak membeli ETF emas hanya karena melihat tren harga emas.

"Sesuaikan rencana investasi ETF emas dengan rencana keuangan komprehensif. Menetapkan tujuan dan jumlah alokasi yang dibutuhkan sebagai bagian dari diversifikasi aset. Jangan FOMO akibat arus tren," ujarnya.

Budi menilai prospek ETF emas cukup baik karena emas sudah menjadi salah satu instrumen investasi yang dikenal luas masyarakat. Kehadiran ETF juga memperluas pilihan bagi investor untuk membangun portofolio di pasar modal.

Perencana Keuangan IARFC Indonesia Aidil Akbar Madjid menambahkan kemudahan transaksi ETF emas tidak berarti instrumen tersebut bebas dari risiko fluktuasi.

Menurut dia, investor tetap perlu memperhatikan pergerakan harga emas sebagai aset dasar. Terlebih, harga emas yang sudah mengalami kenaikan panjang tetap berpotensi mengalami koreksi.

"ETF emas memang menarik karena memberikan cara yang lebih mudah dan likuid untuk mendapatkan exposure terhadap emas, tetapi harga ETF tetap mengikuti underlying emas. Kalau kita membeli setelah kenaikan yang sangat panjang, tetap ada risiko koreksi," kata Aidil.

Untuk investor dengan tujuan jangka panjang, Aidil menyarankan pembelian dilakukan secara bertahap menggunakan metode dollar cost averaging (DCA), alih-alih masuk sekaligus ketika harga sedang tinggi.

"Kalau ingin investasi jangka panjang sebaiknya masuk bertahap dengan metode DCA (dollar cost averaging)," ujarnya.

Aidil mengingatkan investor yang berniat melakukan perdagangan jangka pendek perlu memperhatikan likuiditas ETF. Volume transaksi yang rendah dapat membuat spread antara harga jual dan beli menjadi lebih lebar.

Selain itu, investor perlu mencermati berbagai biaya yang diperhitungkan dalam nilai aktiva bersih (NAB) ETF.

Aidil sendiri melihat kehadiran ETF emas sebagai alternatif di antara emas fisik dan digital.

"ETF emas membuat masyarakat Indonesia mempunyai 'jalan tengah' antara emas fisik dan emas digital: tidak perlu menyimpan emas sendiri, tetapi mendapatkan akses melalui infrastruktur pasar modal yang sudah dikenal investor," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]

(sfr)