Terminal LPG Pertamina Kantongi Sertifikasi Hijau Pertama di Dunia
PT Pertamina (Persero) mencatat capaian baru dalam upaya mendorong operasional energi berkelanjutan. Terminal LPG Tanjung Sekong yang dikelola PT Pertamina Energy Terminal (PET), anak usaha PT Pertamina International Shipping (PIS), resmi meraih Green Terminal Label Certification (GTLC) bintang 2 dari Bureau Veritas (BV).
Sertifikasi ini menjadikan Terminal LPG Tanjung Sekong sebagai terminal LPG pertama di Indonesia sekaligus di dunia yang meraih predikat tersebut. Penyerahan sertifikat dilakukan dalam Closing Ceremony Green Terminal Label Certification di Grand Ballroom PIS pada Rabu (5/8).
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menyebut pencapaian ini menjadi tonggak penting bagi Pertamina maupun Indonesia dalam mendorong pengelolaan terminal energi yang lebih ramah lingkungan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sertifikasi ini menjadi kebanggaan bagi Pertamina, dan juga bagi Indonesia karena pertama kalinya sebuah terminal LPG mendapatkan sertifikasi Green Terminal Label bintang 2. Ini menunjukkan transformasi Pertamina dalam membangun bisnis yang berkelanjutan bagi masa depan perusahaan maupun lingkungan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (7/8).
Pencapaian ini dinilai bernilai strategis karena standar Green Terminal diterapkan pada fasilitas dengan risiko tinggi, terutama dalam penyimpanan dan penanganan LPG. Sebagian besar terminal lain yang telah memperoleh sertifikasi GTLC merupakan pelabuhan umum atau terminal peti kemas.
Agung menuturkan sertifikasi ini juga menunjukkan kemampuan Pertamina mengintegrasikan keandalan operasional dengan prinsip keberlanjutan. Terminal Tanjung Sekong dinilai telah menerapkan sistem operasional yang mencakup aspek energi, lingkungan, digitalisasi, keselamatan, hingga pengurangan emisi karbon.
"Pencapaian ini membuktikan bahwa Terminal LPG Tanjung Sekong tidak hanya beroperasi secara andal, tetapi juga telah menerapkan sistem operasional berkelanjutan yang mencakup aspek energi, lingkungan, digitalisasi, keselamatan, hingga komitmen terhadap pengurangan emisi karbon," papar dia.
Salah satu pengembangan utama dalam program Green Terminal Tanjung Sekong adalah integrasi energi terbarukan melalui pemanfaatan energi surya dan rencana penggunaan hidrogen hijau. Pertamina tengah mengembangkan fasilitas produksi hidrogen hijau berbasis panas bumi melalui PT Pertamina Geothermal Energy Tbk di Ulubelu, Lampung.
Fasilitas tersebut memiliki kapasitas produksi hingga sekitar 100 kilogram per hari dengan teknologi elektrolisis Anion Exchange Membrane (AEM). Hidrogen ini rencananya dimanfaatkan di Terminal LPG Tanjung Sekong sebagai bagian dari ekosistem hidrogen Pertamina dari hulu hingga hilir.
Integrasi energi dari sumber hidrogen hijau tersebut ditujukan untuk meningkatkan porsi energi terbarukan pada kebutuhan listrik terminal. Agung menambahkan, penerapan standar Green Terminal pada fasilitas penyimpanan dan penanganan LPG ini dapat menjadi referensi bagi pengembangan terminal minyak, gas, LNG, dan LPG lain di lingkungan Pertamina Group.
Pertamina menargetkan enam fasilitas terminalnya turut memperoleh Green Terminal Label, di antaranya Terminal LPG Tuban, Fuel Terminal Baubau, Fuel Terminal Kotabaru, dan Integrated Terminal Tanjung Uban.
"Kami ingin mereplikasi konsep Green Terminal ini ke terminal-terminal lainnya sehingga semakin banyak fasilitas Pertamina yang beroperasi dengan prinsip keberlanjutan," imbuhnya.
Ia menambahkan, posisi Pertamina sebagai perusahaan energi terintegrasi dari hulu hingga hilir menjadi modal utama mempercepat transisi energi. Menurut dia, keunikan ini menjadi nilai tambah agar target keberlanjutan dapat dicapai melalui kolaborasi antarperusahaan.
Penyerahan sertifikasi GTLC bintang 2 dari Bureau Veritas untuk Pertamina di Closing Ceremony Green Terminal Label Certification, Rabu (5/8) (Foto: Arsip Pertamina) |
Sebagai informasi, Terminal LPG Tanjung Sekong berlokasi di Cilegon, Banten, dan berperan sebagai pusat energi strategis yang mendukung penerimaan, penyimpanan, serta distribusi LPG bagi masyarakat dan industri. Terminal ini memiliki kapasitas penyimpanan 98.000 metrik ton atau 196.000 meter kubik, setara 35-40 persen kebutuhan LPG nasional.
Fasilitas jetty di terminal ini mampu melayani kapal berkapasitas sekitar 3.500 hingga 65.000 DWT (deadweight tonnage). Proses sertifikasi dimulai sejak kick-off pada 11 Februari 2026, dilanjutkan gap assessment and refreshment workshop, audit awal, hingga audit final pada Juli 2026.
Hasil audit final menunjukkan Terminal LPG Tanjung Sekong meraih skor 78,86 persen, sehingga memperoleh predikat bintang 2 dari maksimal bintang 3. Agung menyebut hasil ini membuktikan standar yang diterapkan Pertamina sudah berkelas dunia.
"Audit ini dilakukan oleh BV sebagai lembaga auditor independen internasional dan membuktikan bahwa standar yang diterapkan sudah berkelas dunia," kata dia.
Di sisi lain, BV Southeast Asia Industry Director, Joko Prakoso, menjelaskan proses sertifikasi dilakukan dengan mengedepankan verifikasi berbasis data dan bukti lapangan. Penilaian Green Terminal Label mencakup berbagai indikator, mulai dari kinerja lingkungan, efisiensi energi, pengurangan emisi gas rumah kaca, keselamatan dan kesehatan kerja, tata kelola perusahaan, hingga keberlanjutan program perusahaan.
"Kami melakukan proses verifikasi secara independen. Penilaiannya harus berdasarkan bukti dan data yang nyata, bukan hanya pernyataan," jelasnya.
Dia menyebut setelah seluruh aspek dinilai memenuhi persyaratan, pihaknya menyatakan terminal ini layak memperoleh sertifikasi Green Terminal Label bintang 2. Sebagai terminal LPG pertama di dunia yang meraih sertifikasi ini, ia menilai pencapaian tersebut menetapkan tolok ukur baru di tingkat global untuk operasional terminal berkelanjutan.
"Kami berharap pencapaian ini dapat menginspirasi penerapan praktik-praktik berkelanjutan yang lebih luas di seluruh sektor energi," pungkas Joko.
Capaian Green Terminal LPG Tanjung Sekong dinilai menjadi bukti komitmen Pertamina terhadap penerapan prinsip ESG serta kepatuhan pada regulasi lingkungan. Pencapaian ini juga disebut mendukung target Net Zero Emission pada 2060 atau lebih cepat.
Melalui inisiatif ini, Pertamina menegaskan perannya sebagai perusahaan energi nasional yang terus mendorong inovasi rendah karbon. Perusahaan juga disebut memperkuat kontribusi terhadap agenda transisi energi Indonesia, termasuk pada sektor transportasi dan penyimpanan energi.
(rir)