Mendag Bantah Gerai Ritel Tutup Gara-gara Daya Beli Lesu

CNN Indonesia
Rabu, 05 Agu 2026 21:19 WIB
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso membantah anggapan penutupan sejumlah gerai ritel modern belakangan ini disebabkan melemahnya daya beli masyarakat.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso membantah anggapan penutupan sejumlah gerai ritel modern belakangan ini disebabkan melemahnya daya beli masyarakat. (CNN Indonesia/ Dela Naufalia).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso membantah anggapan penutupan sejumlah gerai ritel modern belakangan ini disebabkan melemahnya daya beli masyarakat.

Menurutnya, sebagian besar penutupan gerai terjadi karena pelaku usaha tengah mengubah konsep bisnis agar sesuai dengan perubahan perilaku konsumen.

Pernyataan itu disampaikan Budi merespons maraknya kabar penutupan gerai ritel modern dalam beberapa waktu terakhir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Isu tersebut mencuat setelah sejumlah toko menghentikan operasionalnya, termasuk kabar rencana penutupan sejumlah gerai merek fesyen global H&M di Indonesia.

"Jadi itu penutupan itu lebih pada perubahan konsep. Tadi juga kami komunikasi dengan Hippindo, dengan APPBI. Misalnya Hypermart itu kan berubah menjadi supermarket. Jadi konsepnya saja yang berubah, itu sesuai dengan permintaan pasar, permintaan konsumen sekarang," ujar Budi di Fairmont Hotel, Jakarta Pusat, Rabu (5/8).

Ia mengatakan pemerintah telah berkoordinasi dengan Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) serta Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI).

Dari hasil komunikasi tersebut, menurutnya, industri ritel justru masih terus berkembang dengan masuknya investasi baru.

"Ada beberapa gerai memang juga berubah karena sekarang ini sebenarnya investasi ritel modern itu makin besar. Semakin besar, ini bisa menggantikan toko-toko yang tidak bisa menyesuaikan dengan permintaan pasar. Justru semakin banyak ritel yang sekarang investasinya masuk ke Indonesia," ujarnya.

Menurut Budi, investasi tersebut tak hanya berasal dari pelaku usaha domestik, tetapi juga investor asing.

"Salah satunya asing dan juga dalam negeri. Jadi memang toko-toko, mal dan sebagainya harus bisa menyesuaikan dengan perkembangan atau selera konsumen yang terus berkembang. Paling banyak dari China," ujarnya.

Di sisi lain, pemerintah mengaku terus berupaya menjaga aktivitas belanja masyarakat melalui berbagai program nasional. Budi menyebut sejumlah agenda belanja akan digelar sepanjang Agustus untuk mendorong transaksi di sektor ritel.

Ia mengatakan setelah program Belanja Holiday dan Back to School, pemerintah bersama pelaku usaha akan melanjutkan Indonesia Shopping Festival pada 7-23 Agustus, kemudian program Bina Happy Birthday Indonesia dan Merdeka Madness.

"Kita terus lakukan supaya pasar kita tetap bergairah," ujarnya.

Budi mengatakan rangkaian program tersebut merupakan salah satu langkah pemerintah menjaga konsumsi rumah tangga, yang menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi nasional.

"Salah satunya memang harus ada aktivasi program belanja nasional. Kalau belanja masyarakat semakin meningkat, tentu bisa menumbuhkan pertumbuhan ekonomi kita. Selain itu dari sisi kami juga melalui peningkatan ekspor, karena kalau ekspor terus meningkat berarti ekonomi di dalam negeri juga bergerak dengan baik," katanya.

Belakangan, isu daya beli masyarakat kembali menjadi sorotan seiring kabar penutupan sejumlah gerai ritel modern di berbagai daerah.

Selain itu, merek fesyen asal Swedia, H&M, juga dikabarkan akan menutup sebagian gerainya di Indonesia sebagai bagian dari strategi bisnis global perusahaan.

[Gambas:Youtube]

(del/sfr)