Saham BUMN di Kereta Cepat Bakal Dialihkan ke SMV Kemenkeu
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dan Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara Indonesia Dony Oskaria sepakat mengalihkan kepemilikan saham konsorsium BUMN di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) ke Special Mission Vehicle (SMV) di bawah Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
Purbaya mengatakan pengalihan tersebut ditargetkan rampung pada pertengahan September mendatang. Menurutnya, saham KCIC akan dikelola oleh salah satu SMV Kemenkeu, sehingga tidak menjadi beban langsung Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Dialihkan ke Kemenkeu, diolah saya semuanya. Tetapi nanti kami akan pakai salah satu tangan SMV fiskal untuk mengelola. Kami kan punya banyak, ada SMI dan lain-lain. Jadi enggak langsung tanggung jawab APBN, walaupun diolah pemerintah," ujar Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (5/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
SMV sendiri merupakan lembaga khusus di bawah Kemenkeu yang bertugas mendukung pembiayaan pembangunan dan investasi pemerintah.
Sejumlah SMV antara lain PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI), PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII), PT Sarana Multigriya Finansial (SMF), Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN), Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), hingga Pusat Investasi Pemerintah (PIP).
Purbaya menegaskan pengalihan saham tersebut tidak berarti utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh akan dialihkan ke APBN.
Menurutnya, SMV memiliki kemampuan keuangan untuk mengelola aset tersebut tanpa memerlukan suntikan dana pemerintah.
"SMV kan punya untung juga, jadi sebagian akan dibiarkan ke situ. Kira-kira begitu gambaran kasarnya," katanya.
Dengan skema tersebut, kepemilikan saham Indonesia di KCIC tidak lagi berada di bawah konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), melainkan akan dikelola oleh SMV Kementerian Keuangan.
Saat ini, 60 persen saham KCIC dimiliki konsorsium PSBI yang beranggotakan PT Kereta Api Indonesia (Persero), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, dan PT Perkebunan Nusantara (Persero). Sementara 40 persen sisanya dimiliki konsorsium China melalui Beijing Yawan HSR Co. Ltd.
Purbaya juga memastikan proses pengalihan kepemilikan saham tersebut sedang dipercepat agar dapat diselesaikan sesuai target pada pertengahan September.
"Biasanya kan kita percepat, mungkin pertengahan September sudah akan clear," ujarnya.
(lau/sfr)