Rupiah Perkasa ke Rp17.934 per Dolar AS usai Rilis Pertumbuhan Ekonomi

CNN Indonesia
Rabu, 05 Agu 2026 16:17 WIB
Lembaran mata uang rupiah dan dollar AS diperlihatkan di salah satu jasa penukaran valuta asing di Jakarta, Rabu, 5 September 2018.
Nilai tukar rupiah menguat ke Rp17.934 per dolar AS. Penguatan ini dipicu faktor eksternal dan internal, termasuk pertumbuhan ekonomi yang positif. (FOTO:CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Nilai tukar rupiah berada di level Rp17.934 per dolar AS pada perdagangan Rabu (5/8) sore. Mata uang Garuda menguat 93 poin atau 0,52 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang berada di zona hijau terhadap dolar AS. Yuan China stagnan 0 persen, peso Filipina menguat 0,69 persen, serta ringgit Malaysia terapresiasi 0,05 persen.

Kemudian, Dolar Singapura menguat 0,02 persen, yen Jepang turun 0,01 persen, won Korea Selatan terapresiasi 0,24 persen, dan dolar Hong Kong turun 0,01 persen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, mata uang utama negara maju cenderung bervariasi terhadap dolar AS. Euro Eropa naik 0,07 persen, poundsterling Inggris menguat 0,09 persen, dan dolar Australia terapresiasi 0,02 persen. Di sisi lain, dolar Kanada melemah 0,04 persen, sedangkan franc Swiss stagnan 0 persen.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah akibat kombinasi faktor eksternal dan internal. Dari sisi eksternal, konflik geopolitik antara AS dan Iran yang mulai mereda dan harga minyak yang turun ke level di bawah US$80 per barel.

"Pasar merespon positif terhadap pernyataan Qatar pada Selasa menyatakan bahwa para mediator telah mencapai kemajuan dalam upaya mengakhiri perang yang mendorong penurunan harga minyak, meskipun Teheran membantah pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa perundingan sudah berlangsung," ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis, Senin (13/7).

[Gambas:Youtube]

Sementara dari sisi internal, pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang merilis pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29 persen pada kuartal II 2026.

Ibrahim menyebutkan data pertumbuhan ekonomi Indonesia itu justru berbanding terbalik dengan proyeksi para ekonom yang memproyeksikan angka lebih rendah.

"Data pertumbuhan ekonomi kuartal II yang di rilis BPS, berbanding terbalik dengan para ekonom yang memprediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2026 akan berada antara 4,8 persen sampai 4,9 persen," tambahnya.

Ia memperkirakan pergerakan rupiah besok (6/8) berada dalam rentang Rp17.930 hingga Rp17.980 per dolar AS.

(fln/ins)