Airlangga Prediksi Laju Ekonomi Maksimal 5,4 Persen Kuartal II 2026

CNN Indonesia
Selasa, 04 Agu 2026 21:25 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berkisar 5,2 persen hingga 5,4 persen (yoy) pada kuartal II 2026. (Arsip Kemenko Perekonomian).
Makassar, CNN Indonesia --

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berkisar 5,2 persen hingga 5,4 persen (yoy) pada kuartal II 2026.

"Besok akan diumumkan terkait dengan pertumbuhan ekonomi yang range-nya menurut saya antara 5,2 sampai 5,4 persen," ujar Airlangga di Makassar, Selasa (4/8).

Airlangga menilai fundamental perekonomian nasional saat ini berada dalam kondisi yang sangat kuat di tengah ketidakpastian situasi global.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kondisi ekonomi kita secara fundamental kuat. Kemarin baru diumumkan inflasi sudah 2,88 persen, turun dari 3 persen sebelumnya. PMI (Purchasing Managers' Index) juga naik di atas 50," ujarnya.

Melihat proyeksi laju ekonomi April-Juni 2026, Airlangga menilai Indonesia mampu mempertahankan resiliensi ekonominya, berbeda dengan tren perlambatan ekonomi global yang saat ini berada di kisaran angka 3 persen.

"Relatif semua masih berada pada angka yang benar sehingga tentu momentum ini kita harus jaga ke kuartal ketiga dan kuartal keempat walaupun situasi global masih belum menentu," ungkapnya.

[Gambas:Youtube]

Karenanya, Airlangga membantah ada sinyal perlambatan ekstrem pada perekonomian nasional. Kendati, laju ekonomi tercatat 5,61 persen (yoy) pada kuaral I 2026.

"Kemarin (Kuartal I 2026), (ekonomi tumbuh) 5,61 (persen) dan besok kita masih lihat di atas 5 persen. Jadi Indonesia bisa mempertahankan pertumbuhan ekonomi. Walaupun global melambat, 3 koma, tapi Indonesia tidak ikut global," ujarnya.

Lebih lanjut, Airlangga memastikan sektor energi domestik tetap berada dalam kondisi yang relatif aman. Stabilitas ini didukung oleh harga minyak dunia yang saat ini masih berada di bawah rata-rata pembelian di kisaran US$90 per barel.

(mir/sfr)