Harga Minyak Dunia Bangkit Tipis, Perang AS-Iran Masih Bayangi Pasar
Harga minyak dunia naik tipis pada perdagangan Selasa (4/8) setelah sehari sebelumnya anjlok tajam.
Pelaku pasar kembali mencermati risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah di tengah belum adanya kepastian penyelesaian diplomatik konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran yang masih mengganggu jalur pengiriman energi.
Melansir Reuters, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman terdekat naik US$0,62 atau 0,7 persen menjadi US$84,39 per barel. Kenaikan itu terjadi setelah Brent merosot sekitar 7 persen pada perdagangan sebelumnya hingga menyentuh level terendah dalam tiga pekan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$0,61 atau 0,7 persen menjadi US$80,95 per barel, setelah sehari sebelumnya terkoreksi lebih dari 5 persen ke posisi terendah dalam hampir sepekan.
Harga minyak sebelumnya anjlok setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan menunda rencana serangan baru terhadap Iran sembari menunggu kelanjutan pembicaraan untuk mengakhiri perang dan menyelesaikan sengketa terkait Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menghubungkan negara-negara produsen minyak di Teluk Persia dengan pasar global. Sebelum konflik memanas, sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia dipasok melalui jalur tersebut setiap hari.
Namun, harapan meredanya ketegangan kembali memudar setelah Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei membantah klaim Trump. Ia menegaskan tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung maupun agenda pertemuan antara Teheran dan Washington.
Kepala Analis Pasar KCM Trade Tim Waterer mengatakan penundaan serangan oleh AS memang sempat mengurangi tekanan terhadap harga minyak, tetapi kondisi pasar masih sangat rapuh.
"Tekanan pada harga minyak memang sedikit mereda setelah Trump menunda serangan terhadap Iran dan menyampaikan peluang kembali ke meja perundingan. Namun penurunan harga masih rapuh karena minyak bisa kembali melonjak jika serangan rudal terjadi lagi atau kapal tanker kembali diserang di Selat Hormuz," kata Waterer.
Ia menambahkan sengketa mengenai Selat Hormuz masih menjadi sumber utama ketidakpastian.
Washington menilai nota kesepahaman yang disepakati pada Juni mewajibkan Iran membuka jalur pelayaran tersebut, sedangkan Teheran berpendapat perjanjian itu tetap memberikan kewenangan kepada Iran atas pengelolaan selat tersebut.
Di tengah ketidakpastian itu, aktivitas pengiriman minyak masih mengalami gangguan. Analis Barclays mencatat ekspor bersih minyak mentah dan produk olahan melalui Selat Hormuz pada pekan yang berakhir 31 Juli mencapai rata-rata 4,2 juta barel per hari, naik dari 3,2 juta barel per hari pada pekan sebelumnya.
Data pelayaran juga menunjukkan enam kapal tanker super berbendera Arab Saudi mengubah rute di Teluk Aden menuju Afrika bagian selatan. Sementara itu, dua kapal tanker bermuatan minyak Saudi tetap melintasi Selat Bab el-Mandeb.
Lalu lintas kapal di Selat Hormuz juga melambat setelah muncul laporan serangan terhadap kapal. Pada Selasa, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) menerima laporan sebuah kapal kargo terkena proyektil tak dikenal sekitar 20 mil laut di timur laut Al Khasab, Oman.
Menurut Waterer, meski konflik di kawasan belum sepenuhnya menghentikan arus energi, situasi tersebut memaksa kapal menempuh rute yang lebih panjang, meningkatkan biaya asuransi, serta memicu pengalihan jalur pelayaran.
"Risiko di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb membuat pasar tetap menghadapi ancaman gangguan di dua jalur pelayaran utama. Karena itu, premi risiko geopolitik pada harga minyak belum sepenuhnya hilang," ujarnya.
(del/pta)