Margin Bulog Naik Jadi 7 Persen, Skema Beras Satu Harga Mulai Dibahas
Perum Bulog mulai menyiapkan usulan penerapan skema beras Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) satu harga.
Persiapan itu dilakukan setelah pemerintah menyetujui kenaikan margin penugasan Bulog menjadi 7 persen.
"Pertamina mampu membuat (BBM) satu harga dari Sabang sampai Merauke, insyaallah Bulog juga kalau memang sudah positif kita akan ajukan ke pemerintah. Jika diizinkan, kami buat harga beras medium yaitu beras SPHP insyaallah satu harga Rp11 ribu (harga gudang)," ujar Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani dalam konferensi pers di Kantor Pusat Bulog, Jakarta Selatan, Senin (3/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rizal menegaskan usulan tersebut masih harus dibahas bersama pemerintah melalui rapat koordinasi terbatas (rakortas) yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan.
Menurut Rizal, besaran harga yang nantinya diterapkan juga masih menunggu keputusan pemerintah.
"Ya, seperti harga satu harga nanti. Nanti kita nunggu kebijakan dari pemerintah, satu harganya berapa," ujarnya.
Rizal menjelaskan usulan beras SPHP satu harga mulai dibahas setelah kondisi keuangan Bulog diperkirakan membaik seiring perubahan skema margin penugasan dari pemerintah.
Sebelumnya, Bulog memperoleh margin tetap sekitar Rp50 per kilogram. Kini pemerintah mengubahnya menjadi 7 persen, yang menurut perhitungan Bulog setara sekitar Rp970 per kilogram.
"7 persen itu kalau dikalkulasikan dengan angka menjadi sekitar Rp970. Dengan Rp970 tersebut kalau diperhitungkan sampai dengan akhir tahun maka diproyeksikan neraca keuangan Bulog akan menjadi positif yaitu sekitar Rp1,14 triliun," ujarnya.
Perubahan skema margin tersebut telah diatur dalam Peraturan Badan Pangan Nasional (Perbadan) Nomor 3 Tahun 2026.
Aturan itu mengubah mekanisme margin Bulog dari nominal tetap menjadi formula sebesar 7 persen yang dihitung berdasarkan komponen biaya pengadaan beras dalam negeri, biaya kemasan, hasil penjualan produk samping, serta kuantum pengadaan setara beras.
Selain perubahan margin, Rizal mengatakan pemerintah juga memangkas bunga pinjaman Bulog sehingga beban pendanaan perusahaan turun signifikan.
"Yang bunga bank yang biasanya 7 sampai 8 persen diturunkan 2 sampai 3 persen. Ini luar biasa dan dampak dari pengurangan bunga bank tersebut Bulog mampu untuk mengurangi biaya pembayaran bunga dalam satu tahun lebih dari Rp1,07 triliun. Ini baru kali ini Bulog diberikan bunga yang begitu rendah, 3 persen dari pemerintah dan diberikan tambahan subsidi bunga 2 persen dari pemerintah," katanya.
Rizal menilai skema tersebut membuat Bulog kini hanya menanggung bunga pinjaman sebesar 3 persen, sementara pemerintah memberikan subsidi bunga sebesar 2 persen. Kebijakan itu diperkirakan mampu memangkas beban bunga Bulog lebih dari Rp1,07 triliun dalam setahun.
Ia mengatakan kombinasi kenaikan margin penugasan dan penurunan beban bunga membuat neraca keuangan Bulog diproyeksikan kembali mencatatkan surplus. Kondisi itu menjadi dasar bagi Bulog untuk mulai mengusulkan penerapan skema beras SPHP satu harga kepada pemerintah.
Rencana tersebut muncul di tengah pembahasan pemerintah mengenai penyederhanaan klasifikasi beras.
Dalam hal ini, pemerintah akan merevisi Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 2 Tahun 2023 yang mengarah pada penyederhanaan kategori beras menjadi beras HET dan beras khusus, menggantikan klasifikasi beras premium dan medium.
(del/sfr)