Harga Minyak Dunia Mengalir ke US$89,03 Berkat Ketegangan Pasar Reda
Harga minyak dunia merosot ke level US$89,03 per barel pada Jumat (31/7) setelah melewati sesi fluktuatif. Penurunan terjadi seiring meredanya ketegangan pasar sejalan berkembangnya isu pembentukan koalisi maritim pimpinan Arab Saudi di Laut Merah, serta berlanjutnya diplomasi di Selat Hormuz.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent terkoreksi US$1,71 atau 1,88 persen ke level US$89,03 per barel. Sebelumnya, Brent sempat melonjak hingga menyentuh level tertinggi harian di US$93,31 per barel akibat saling serang antara militer Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 87 sen atau 1,03 persen ke posisi US$83,59 per barel, setelah sempat mengudara hingga ke level US$85,94 per barel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penyebab utama penekanan harga minyak adalah respons pasar terhadap usulan koalisi pertahanan maritim multinasional yang diprakarsai Arab Saudi. Kerajaan Teluk tersebut berupaya memperkuat keamanan di titik krusial Selat Bab El-Mandeb, Laut Merah, hingga Teluk Aden.
Lihat Juga : |
Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengonfirmasi sedikitnya 14 negara, termasuk Turki, Pakistan, Mesir, Sudan, dan Djibouti telah menandatangani deklarasi bersama untuk mendukung koalisi tersebut.
Langkah ini menyusul aksi militan Houthi di Yaman yang melancarkan blokade laut terhadap Arab Saudi pekan lalu. Ancaman Houthi menyasar rute Laut Merah yang menjadi jalur alternatif vital bagi ekspor minyak Saudi saat Selat Hormuz dilanda krisis.
"Ada persepsi kuat di pasar bahwa pasokan minyak dalam jumlah besar siap mengalir kembali begitu konflik teratasi. Sentimen ini menjadi penahan utama yang membatasi lonjakan harga lebih lanjut," ujar Partner di Again Capital John Kilduff.
Selain faktor Laut Merah, spekulasi meredanya ketegangan juga disumbang oleh berlanjutnya dialog antara Iran dan Oman mengenai tata kelola Selat Hormuz. Meskipun pejabat senior Iran sempat menolak usulan Oman terkait pengelolaan bersama secara regional, fakta bahwa saluran komunikasi tetap terbuka memberikan sentimen positif bagi pasar.
Jalur strategis Selat Hormuz menjadi pusat kekhawatiran global sejak perang AS-Israel melawan Iran meletus pada 28 Februari lalu.
Ekonom Senior Bidang Iklim dan Komoditas Capital Economics Hamad Hussain menilai komunikasi diplomatik tersebut dapat membuka jalan menuju pemulihan rute dagang.
"Fakta bahwa Oman masih aktif berdiskusi dengan Iran mengindikasikan adanya titik terang menuju pembukaan kembali Selat Hormuz," tutur Hussain.
Meski angin segar diplomasi mulai berembus, para pelaku pasar diimbau untuk tidak terburu-buru berpuas diri. Pasalnya, konflik fisik di lapangan belum sepenuhnya mereda.
Kepala Analis Pasar KCM Trade Tim Waterer mengingatkan bahwa harga minyak masih akan dibayangi oleh premi risiko tinggi selama jalur pelayaran belum sepenuhnya aman.
"Harapan terhadap jalur diplomasi tentu disambut baik oleh pasar, namun kenyataan bahwa aksi militer dan serangan masih terjadi membuat premi risiko minyak sulit menguap sepenuhnya," ujar Waterer.