PT Pertamina (Persero) terus memperkuat ketahanan energi nasional melalui berbagai langkah, salah satunya program Bring Barrel Home yang dilakukan melalui Pertamina Hulu Energi, sebuah strategi yang mendorong pasokan minyak mentah dari aset-aset hulu migas yang dikelola Pertamina di luar negeri untuk dibawa dan diolah di dalam negeri.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya Pertamina dalam mengoptimalkan asset-aset internasional untuk mendukung kebutuhan kilang domestik dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, sepanjang tahun 2026, Pertamina telah berhasil merealisasikan 2 kali pengiriman minyak mentah ke Indonesia yaitu sebanyak 1 juta barel di awal tahun, dan 450 ribu barel di Juni 2026.
Hal ini turut memperkuat pasokan bagi kilang domestik dan mendukung keberlanjutan kebutuhan energi nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron mengatakan Pertamina akan terus konsisten mengembangkan bisnis internasional sebagai bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. Menurutnya, pengembangan aset di luar negeri tidak hanya memberikan manfaat bisnis, tetapi juga mendukung ketahanan energi nasional.
"Pertamina akan terus konsisten dalam pengembangan bisnis di luar negeri sehingga dapat memberikan manfaat positif bagi ketahanan energi nasional sekaligus mengharumkan nama bangsa Indonesia di kancah internasional," ujar Baron kepada CNNIndonesia.com.
Ujung tombak strategi tersebut dijalankan melalui PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP). Anak usaha Pertamina Hulu Energi di sektor hulu internasional itu saat ini mengelola lapangan minyak dan gas di 10 negara sebagai bagian dari upaya menjaga ketersediaan pasokan minyak mentah nasional.
PIEP merealisasikan program Bring Barrel Home dengan mengirimkan minyak mentah dari lapangan Menzel Lejmat (MLN) Block 405a di Aljazair ke Indonesia. Pengiriman tersebut menjadi salah satu contoh optimalisasi produksi dari aset internasional untuk memenuhi kebutuhan kilang dalam negeri.
Pengamat Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti menilai langkah Pertamina memperbesar kontribusi aset luar negeri merupakan strategi yang tepat dalam memperkuat ketahanan energi Indonesia. Menurutnya, Indonesia tidak dapat terus bergantung pada produksi minyak domestik yang cenderung menurun.
"Kalau berbicara ketahanan energi memang Indonesia harus mengarah ke sana. Tidak mungkin hanya mengandalkan eksplorasi minyak domestik," kata Yayan.
Ia menjelaskan, ekspansi internasional memberikan setidaknya dua manfaat strategis bagi Pertamina. Pertama, perusahaan akan terus berada di garis depan perkembangan teknologi eksplorasi dan produksi minyak dan gas dunia. Hal tersebut akan mendorong Pertamina menjadi perusahaan yang lebih efisien dan kompetitif sebagai perusahaan minyak nasional.
Kedua, pengalaman mengelola aset migas di berbagai negara akan menjadi proses pembelajaran (learning curve) yang berharga. Dengan peningkatan kemampuan teknologi, manajemen operasi, hingga eksplorasi, Pertamina diharapkan mampu meningkatkan peluang menemukan cadangan minyak dan gas baru di Indonesia.
"Pertamina akan selalu berada di frontier teknologi eksplorasi migas sehingga dipacu menjadi lebih efisien dan kompetitif. Dari situ akan terbentuk learning curve yang lebih baik sehingga diharapkan mampu meningkatkan penemuan cadangan migas di Indonesia. Jadi ada double dividend," jelasnya.
Meski demikian, Yayan mengingatkan bahwa keberhasilan strategi Bring Barrel Home juga bergantung pada penguatan fondasi internal perusahaan. Menurutnya, terdapat dua prasyarat utama agar Pertamina mampu bersaing dengan perusahaan migas kelas dunia.
Pertama, Pertamina harus memiliki struktur permodalan yang kuat serta mampu meningkatkan efisiensi operasional di tingkat internasional. Dengan demikian, perusahaan tidak hanya berperan sebagai National Oil Company (NOC), tetapi juga mampu bertransformasi menjadi Multinational Oil Company (MNOC).
Kedua, perusahaan harus memperkuat penguasaan teknologi, kualitas sumber daya manusia, serta riset dan pengembangan (research and development/R&D). Ia juga menekankan pentingnya tata kelola perusahaan yang profesional agar pengelolaan bisnis dapat berorientasi pada efisiensi dan daya saing.
Dengan optimalisasi aset internasional melalui Bring Barrel Home, Pertamina tidak hanya berupaya menjaga keamanan pasokan energi nasional dalam jangka pendek, tetapi juga membangun kapabilitas perusahaan untuk menjadi pemain energi global yang semakin kompetitif. Strategi tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan energi Indonesia sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi perekonomian nasional.
(ldy/sur)

