WRI Sebut Elektrifikasi Truk Butuh Infrastruktur Pengisian yang Tepat

WRI Indonesia | CNN Indonesia
Rabu, 29 Jul 2026 17:55 WIB
WRI
Foto: Arsip WRI Indonesia
Jakarta, CNN Indonesia --

Pengembangan ekosistem truk listrik di Indonesia masih menghadapi sejumlah pekerjaan rumah. Salah satu tantangan terbesar adalah ketersediaan infrastruktur pengisian daya yang sesuai dengan karakteristik kendaraan angkutan barang.

Electric Mobility Program Lead WRI Indonesia, Arya Putra, mengatakan pembangunan infrastruktur pengisian daya untuk kendaraan berat tidak bisa disamakan dengan kendaraan penumpang.

Menurut Arya, selain membutuhkan kapasitas daya yang lebih besar, lokasi stasiun pengisian juga harus mempertimbangkan dan disesuaikan dengan pola operasional logistik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Infrastruktur pengisian daya masih menjadi salah satu tantangan utama dalam transisi menuju truk listrik di Indonesia. Berbeda dengan kendaraan ringan, pengembangan infrastruktur untuk kendaraan berat perlu mempertimbangkan kebutuhan daya yang lebih besar serta karakteristik operasional angkutan barang," ujar Arya dalam keterangan resmi dikutip Rabu (29/7).

Menurut dia, pengembangan infrastruktur ke depan perlu diprioritaskan di titik-titik strategis sepanjang koridor logistik agar mampu mendukung operasional truk listrik secara optimal. Desain fasilitas juga harus mampu mengakomodasi dimensi kendaraan besar serta kebutuhan manuver truk saat melakukan pengisian daya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, WRI Indonesia mengembangkan Truck Route Assessment & Charging Evaluation (TRACE), sebuah platform berbasis data yang dirancang untuk membantu pemerintah maupun pelaku industri mengevaluasi kesiapan koridor logistik menuju elektrifikasi.

TRACE berfungsi sebagai platform planning intelligence yang mampu mensimulasikan kelayakan suatu rute, kebutuhan pengisian daya, hingga potensi pengembangan infrastruktur sebelum investasi dilakukan.

Electric Mobility Researcher WRI Indonesia, Aryorespati Xavier, menjelaskan salah satu persoalan terbesar dalam adopsi truk listrik adalah ketidakpastian mengenai apakah rute operasional yang digunakan telah didukung infrastruktur pengisian daya yang memadai.

"TRACE hadir untuk menjawab tantangan mendasar dalam elektrifikasi truk, yaitu ketidakpastian kelayakan infrastruktur pengisian daya pada rute operasi. Sebelum investasi dilakukan, pelaku industri perlu mengetahui apakah rute operasional mereka mempunyai titik SPKLU eksisting yang dapat dimanfaatkan, dan di titik mana infrastruktur pengisian daya baru diperlukan," kata Aryorespati.

Ia menjelaskan TRACE bekerja dengan mengintegrasikan database kendaraan listrik, data terkini lokasi SPKLU PLN, serta Google Maps API. Platform tersebut secara berkala diperbarui mengikuti perkembangan model dan jenis truk listrik yang masuk ke pasar Indonesia sehingga simulasi yang dihasilkan lebih akurat.

Melalui simulasi tersebut, pengguna dapat memperoleh gambaran mengenai konsumsi energi kendaraan, estimasi jarak tempuh, kebutuhan pengisian daya, hingga rekomendasi lokasi SPKLU yang perlu ditingkatkan maupun dibangun.

Berdasarkan materi presentasi WRI Indonesia, TRACE menghasilkan empat keluaran utama, yakni penilaian koridor prioritas (green corridor assessment), pemetaan kebutuhan peningkatan SPKLU eksisting, rekomendasi lokasi pembangunan SPKLU baru, serta analisis kelayakan operasional yang mencakup estimasi waktu tempuh, konsumsi energi, dan performa operasional kendaraan.

Platform ini juga dirancang untuk menjawab tiga pertanyaan utama yang selama ini menjadi pertimbangan pelaku logistik dalam beralih ke kendaraan listrik, yaitu apakah suatu rute layak ditempuh oleh truk listrik, di mana lokasi pengisian daya yang paling optimal, serta apakah infrastruktur pengisian daya yang tersedia saat ini sudah memadai.

Aryorespati berharap keberadaan TRACE dapat membantu proses pengambilan keputusan investasi menjadi lebih terukur sekaligus mengurangi risiko dalam transisi menuju armada logistik rendah emisi.

"Dengan demikian, TRACE memberikan manfaat untuk mempermudah transisi pelaku industri logistik menuju truk listrik secara lebih terencana dan minim risiko," ujarnya.

Dengan pendekatan berbasis data tersebut, TRACE diharapkan dapat mendukung percepatan pengembangan green corridor logistik di Indonesia sekaligus menjadi acuan bagi pemerintah, operator logistik, maupun penyedia infrastruktur dalam merencanakan pembangunan ekosistem truk listrik yang lebih efektif dan efisien.

(inh) Add as a preferred
source on Google