Harga Minyak Dunia Mendidih ke US$87,39 Imbas Memanasnya Timur Tengah

CNN Indonesia
Rabu, 29 Jul 2026 11:21 WIB
Sejumlah kapal tanker berada di perairan dekat instalasi penyulingan minyak di kawasan industri Jurong, Singapura, Sabtu (22/11). Jurong adalah pintu masuk impor Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Indonesia.  ANTARA FOTO/Joko Sulistyo/ed/mes/14
Sementara itu, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) asal AS menguat US$3,05 atau 3,8 persen ke level US$82,31 per barel. (FOTO:ANTARA/Joko Sulistyo).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari US$3 per barel pada perdagangan Rabu (29/7). Kenaikan tajam ini dipicu meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah-termasuk serangan udara bersama antara Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi di Irak-serta penurunan cadangan minyak mentah domestik AS.

Melansir Reuters, hingga pukul 03.00 GMT, harga minyak mentah berjangka Brent naik US$3,30 atau 3,9 persen menjadi US$87,39 per barel. Sementara itu, jenis West Texas Intermediate (WTI) asal AS menguat US$3,05 atau 3,8 persen ke level US$82,31 per barel.

Analis dari ING menyebutkan bahwa penguatan harga minyak terjadi setelah pihak militer AS melaporkan keberhasilan menggagalkan serangan dadakan terhadap pasukan mereka di kawasan tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Arab Saudi juga mencegat drone milik kelompok yang disokong Iran di Irak yang menargetkan infrastruktur energi Saudi," tulis tim analis ING dalam catatan risetnya.

Mereka menambahkan bahwa pasukan AS dan Arab Saudi merespons dengan melancarkan serangan balasan ke sejumlah fasilitas persenjataan di Irak timur.

Perkembangan geopolitik terbaru ini makin memudarkan harapan pasar akan deeskalasi konflik secara cepat di kawasan Teluk Persia.

[Gambas:Youtube]

Selain faktor ketegangan geopolitik, lonjakan harga minyak juga ditopang oleh menyusutnya pasokan minyak mentah di Amerika Serikat.

Berdasarkan data American Petroleum Institute (API) yang dikutip sumber pasar, cadangan minyak mentah AS turun sekitar 3,3 juta barel pada per 24 Juli. Adapun data resmi dari Badan Informasi Energi AS (EIA) dijadwalkan rilis pada Rabu (29/7) waktu setempat.

Faktor pendukung lainnya datang dari kebijakan organisasi negara pengekspor minyak dan sekutupnya (OPEC+). Menurut laporan Reuters, OPEC+ kemungkinan besar akan membekukan rencana peningkatan produksi minyak selama tiga bulan terhitung mulai Oktober mendatang, setelah menyelesaikan tahapan pengembalian kuota produksi dari pemangkasan sukarela sebelumnya.

(ins) Add as a preferred
source on Google