Australia Ingin Bangun Kilang Minyak Pertama dalam 60 Tahun

CNN Indonesia
Selasa, 28 Jul 2026 21:30 WIB
Oil Refinery, Chemical & Petrochemical plant abstract at night.
Australia tengah mempertimbangkan pembangunan kilang minyak pertama dalam lebih dari 60 tahun terakhir. Ilustrasi. (iStock/zorazhuang),
Jakarta, CNN Indonesia --

Australia tengah mempertimbangkan pembangunan kilang minyak pertama dalam lebih dari 60 tahun terakhir.

Rencana muncul di tengah perang di Timur Tengah yang menekan pasokan energi dari luar negeri.

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengatakan proyek tersebut akan membantu meningkatkan ketahanan serta kapabilitas kedaulatan Australia di sektor bahan bakar, sehingga berpotensi melindungi negara itu dari guncangan pasokan pada masa mendatang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apabila studi kelayakan menunjukkan proyek tersebut layak, kilang minyak berskala besar itu akan dibangun oleh perusahaan produsen bahan kimia industri Perdaman di Australia Barat.

"Salah satu manfaat membangun ketahanan nasional adalah membuat Australia menjadi tidak terlalu rentan terhadap dampak berbagai peristiwa yang terjadi di seluruh dunia," ujar Albanese kepada wartawan di Karratha, wilayah Pilbara, Australia Barat, Selasa (28/7), dikutip dari Reuters.

Albanese mengatakan pemerintah federal bersama pemerintah negara bagian Australia Barat menggelontorkan dana sebesar A$4 juta atau sekitar Rp50,46 miliar (kurs Rp12.617 per A$1) untuk membiayai studi kelayakan proyek tersebut.

"Kami ingin memastikan lokasinya tepat, tetapi kami juga ingin memastikan proyek ini benar-benar layak dan dapat dilanjutkan," ujarnya.

Saat ini Australia masih bergantung pada impor untuk memenuhi sekitar 80 persen kebutuhan bahan bakarnya.

Upaya Pemerintah Australia mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak dilakukan setelah Kementerian Keuangan Australia memperingatkan pasar minyak global kini semakin rentan akibat semakin tipisnya bantalan terhadap gangguan pasokan.

[Gambas:Youtube]

Dalam laporan Kementerian Keuangan Australia, mereka menyebut persediaan minyak global menurun sejak konflik di Timur Tengah meningkat. Sementara itu, pasar bahan bakar olahan juga menghadapi risiko pengetatan pasokan yang lebih besar.

Sebagian besar kilang minyak domestik Australia dibangun pada era 1950-an dan 1960-an. Namun, tingginya biaya operasional serta munculnya kilang-kilang berskala besar di Asia membuat banyak fasilitas tersebut tutup dalam tiga dekade terakhir.

Saat ini hanya tersisa dua kilang yang masih beroperasi, yakni kilang Ampol di Queensland dan fasilitas Viva Energy di Victoria. Jumlah itu jauh berkurang dibandingkan delapan kilang yang masih beroperasi pada tahun 2000.

Kilang minyak satu-satunya di Australia Barat juga ditutup pada 2021 setelah BP memutuskan mengubah fasilitas Kwinana berkapasitas 146 ribu barel per hari itu menjadi terminal impor bahan bakar.

(dhz/sfr) Add as a preferred
source on Google