WRI Indonesia Sebut Elektrifikasi Angkutan Kunci Swasembada Energi
Pemerintah Indonesia terus memperkuat strategi untuk mewujudkan target swasembada energi nasional. Langkah ini mencakup peningkatan bauran biodiesel hingga perluasan pemanfaatan energi terbarukan.
Upaya lain dilakukan melalui eksplorasi minyak bumi, peningkatan lifting, serta pembangunan kilang dan fasilitas penyimpanan energi. Fondasi penting ini dibangun demi memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan impor.
Meski demikian, tantangan swasembada energi nasional ternyata tidak berhenti pada sisi produksi energi saja. Konsumsi diesel nasional tercatat meningkat 24,5 persen dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, produksi diesel domestik baru mampu memenuhi sekitar 51,6 persen dari total kebutuhan nasional. Kondisi ini memberikan beban berat pada ruang fiskal akibat subsidi dan kompensasi solar yang membengkak.
Nilai subsidi dan kompensasi solar tersebut bahkan menyentuh angka Rp415,84 triliun sepanjang periode 2019 hingga 2024. Pemodelan WRI Indonesia memperingatkan adanya potensi kebutuhan impor solar kembali muncul pada 2027.
Ancaman impor tersebut diprediksi tetap terjadi meskipun impor solar sempat dihentikan sepenuhnya pada 2026. Hal itu dapat terjadi apabila pemerintah tidak melakukan pengendalian terhadap pertumbuhan permintaan energi.
Menjawab tantangan tersebut, WRI Indonesia menggelar Indonesia Zero Emission Heavy-Duty Vehicle (IZEHDV) Summit 2026. Forum kolaborasi ini mengusung tema Achieving Energy Security Through Transformation of the Transportation Sector.
Acara tersebut mempertemukan pemerintah, pelaku industri, lembaga pembiayaan, akademisi, hingga organisasi masyarakat sipil. Diskusi berfokus pada percepatan adopsi kendaraan berat nol emisi beserta ekosistem pendukungnya.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, menegaskan bahwa transformasi sektor transportasi merupakan bagian penting dalam menjawab tantangan pembangunan Indonesia di masa depan.
"Ini adalah strategic dilemma. Di satu sisi, Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di sisi lain, pertumbuhan tersebut akan meningkatkan kebutuhan energi dan tekanan terhadap lingkungan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (23/7).
Ia menegaskan transformasi sektor transportasi menjadi kunci agar ketahanan energi, daya saing ekonomi, dan keberlanjutan dapat berjalan beriringan. Transformasi ini menjadi bagian penting dalam menjawab tantangan pembangunan masa depan.
Di sisi lain, Country Director WRI Indonesia, Nirarta Samadhi, menilai pembahasan kendaraan listrik sejauh ini terlalu berfokus pada emisi. Padahal, manfaat strategis elektrifikasi untuk ketahanan nasional jauh lebih luas dari isu lingkungan.
"Pemodelan kami menunjukkan bahwa tanpa perubahan signifikan pada teknologi transportasi, kebutuhan diesel Indonesia dapat mencapai sekitar 87,5 juta kiloliter pada 2040. Sementara itu, kapasitas produksi domestik diperkirakan hanya sekitar 26,5 juta kiloliter," ucap dia.
Nirarta menekankan bahwa peningkatan pasokan energi saja tidak akan pernah cukup untuk mencapai ketahanan energi. Pemerintah juga harus mulai mengelola permintaan energi secara aktif melalui transformasi sektor logistik.
Sebagai langkah konkret, WRI Indonesia telah menginisiasi Indonesia Freight Decarbonization Accelerator (IFDA) sejak 2025. Platform lintas sektor ini dihadirkan khusus untuk mendorong dekarbonisasi angkutan berat nasional.
Hingga kini, platform tersebut telah melibatkan 42 perusahaan logistik dalam kajian dan pendampingan implementasi kendaraan berat. Pendampingan itu diselenggarakan salah satunya melalui Corporate Assistance Program (CAP) pada April 2026.
WRI Indonesia turut mengembangkan platform bernama Truck Route Assessment & Charging Evaluation (TRACE). Inovasi ini membantu mengevaluasi kesiapan rute, kebutuhan pengisian daya, serta prioritas pembangunan infrastruktur.
Sebagai informasi, gelaran IZEHDV Summit 2026 turut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, beserta pejabat kementerian terkait. Kehadiran perwakilan Kementerian ESDM, Kementerian Perindustrian, dan Pemprov DKI Jakarta memperkuat sinergi lintas sektor.
Melalui forum ini, WRI Indonesia berharap transformasi angkutan barang menjadi pilar utama swasembada energi. Pengurangan konsumsi solar melalui elektrifikasi diharapkan mampu memperkuat ketahanan energi dan daya saing industri.
(rir) Add
as a preferred source on Google