Rupiah Lanjut Menguat ke Rp18.068 per Dolar AS Sore Ini

CNN Indonesia
Rabu, 15 Jul 2026 15:45 WIB
Petugas menghitung uang dolar AS di Cash Pooling Bank Mandiri, Jakarta, Kamis (23/6/2022). Nilai tukar dolar melemah tipis usai Bank Indonesia mengumumkan keputusan untuk kembali mempertahankan suku bunga acuan di level 3,5 persen. Dimana nilai tukar
Analis mengatakan penguatan rupiah didorong oleh data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah dari perkiraan pasar. (FOTO:CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Nilai tukar rupiah ditutup di level Rp18.068 per dolar AS pada perdagangan Rabu (15/7) sore. Mata uang Garuda menguat 23 poin atau 0,13 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang menguat terhadap dolar AS. Yuan China naik 0,02 persen, peso Filipina menguat 0,03 persen, dan ringgit Malaysia terapresiasi 0,03 persen.

Di sisi lain, sejumlah mata uang Asia justru melemah. Dolar Singapura turun 0,02 persen, yen Jepang melemah 0,04 persen, won Korea Selatan terdepresiasi 0,23 persen, dan dolar Hong Kong terkoreksi 0,01 persen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, pergerakan mata uang utama negara maju terhadap dolar AS berlangsung bervariasi. Euro Eropa menguat 0,03 persen, poundsterling Inggris naik 0,04 persen, dan dolar Australia terapresiasi 0,15 persen. Sebaliknya, dolar Kanada menguat 0,05 persen terhadap dolar AS, sedangkan franc Swiss melemah 0,10 persen.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan penguatan rupiah didorong oleh data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah dari perkiraan pasar.

"Rupiah ditutup menguat terhadap dolar AS, didukung oleh data inflasi AS yang lebih lemah dari perkiraan sehingga memicu meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga The Fed," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Rabu (15/7).

[Gambas:Youtube]

Menurutnya, sentimen positif lainnya datang dari keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia.

"Rupiah juga masih mendapat sentimen positif dari dipertahankannya peringkat kredit Indonesia oleh S&P," imbuhnya.

Meski demikian, Lukman menilai ruang penguatan rupiah masih terbatas akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia.

"Namun, penguatan masih terbatas akibat memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak dunia," katanya.

(lau/ins) Add as a preferred
source on Google