OJK Temui Airlangga Minta Diberi Insentif ETF Emas
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi mengungkapkan pihaknya menemui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto untuk membahas insentif perdagangan Exchange Traded Fund (ETF) emas non delivery.
Sebagai informasi, ETF emas non delivery adalah instrumen investasi berbasis kontrak dengan investor tidak menerima maupun menyimpan emas fisik saat bertransaksi.
"Kita minta beberapa insentif lah untuk produk-produk baru di pasar sektor jasa keuangan, seperti ETF emas dan lain-lain," ujar wanita yang akrab disapa Kiki saat ditemui di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Selasa (14/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, OJK juga menyampaikan kepada pemerintah terkait rencana reformasi pasar modal yang telah dijalankan OJK bersama PT Bursa Efek Indonesia (BEI).
Kiki menyebut saat ini reformasi integritas pasar modal telah dilakukan yang sebelumnya diperhatikan oleh lembaga penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI).
"Kami menyampaikan update terkait dengan reformasi di pasar modal yang memang kita ketahui Pak Menko kan sejak awal sudah mendampingi kita lah ya dalam hal reformasi integritas di pasar modal dan kita sudah sampaikan bahwa semua concern dari MSCI sudah kita lakukan," terangnya.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan insentif fiskal diperlukan untuk mendukung pengembangan instrumen investasi baru tersebut di pasar modal.
"Termasuk juga untuk tahap berikutnya, perdagangan ETF emas yang non delivery itu mungkin membutuhkan insentif fiskal, itu tadi kami pelajari juga," kata Airlangga.
Ia menjelaskan karakteristik produk investasi tersebut membutuhkan aspek pajak yang perlu disesuaikan.
"Kalau perdagangan ETF emas kan non delivery goods, goods-nya tidak ada. Jadi salah satu dari segi perpajakannya untuk dipermudah," tambahnya.
Sebelumnya, BEI memastikan pengembangan produk baru di pasar modal tetap berjalan di tengah gejolak pasar dan tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), salah satunya exchange traded fund (ETF) emas.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan pengembangan instrumen investasi baru menjadi bagian dari upaya pendalaman pasar modal domestik.
"ETF emas kita harapkan segera bisa terbit," ujar Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta, Senin (18/5).
Selain ETF emas, BEI juga tengah menyiapkan pengembangan produk derivatif dengan tambahan underlying baru.
"Kemudian produk-produk derivatif dengan tambahan underlying itu juga akan terus jalan sesuai dengan schedule," katanya.
Jeffrey mengatakan pengembangan produk tetap menjadi prioritas di tengah volatilitas pasar keuangan global dan meningkatnya ketidakpastian di pasar domestik.
Ia menilai, diversifikasi instrumen investasi diperlukan agar pasar modal Indonesia semakin dalam dan mampu menarik lebih banyak partisipasi investor.
as a preferred source on Google