BPS Soroti Beras dan Minyak Goreng Masih Mahal, Minyakita Rp16.380

CNN Indonesia
Senin, 13 Jul 2026 13:23 WIB
Berbagai produk minyak goreng yang dijual di pasar Pasar Rumput, Jakarta Selatan, Selasa, 11 Maret 2025. Pekan lalu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menemukan MinyaKita yang dikemas di bawah ketentuan yang seharusnya berisi 1 liter saat menggel
BPS mencatat harga beras dan minyak goreng masih bertahan di level tinggi pada pekan kedua Juli 2026. Harga Minyakita dijual di atas HET. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga beras dan minyak goreng masih bertahan di level tinggi pada pekan kedua Juli 2026.

Kondisi itu menjadi perhatian karena meski kenaikan harganya relatif rendah, masyarakat masih harus membeli kedua komoditas tersebut dengan harga yang mahal.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah komoditas pangan lain, seperti cabai merah, bawang merah, daging ayam ras, hingga telur ayam ras yang justru mulai menunjukkan tren penurunan harga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Beras, minyak goreng perlu mendapatkan perhatian walaupun perubahan IPH-nya relatif rendah, tetapi level harganya sudah sangat tinggi. Ini yang sebenarnya dibayar oleh masyarakat. Walaupun IPH-nya rendah, artinya harganya stabil, tetapi stabil pada harga yang tinggi," kata wanita yang akrab disapa Winny itu dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, Senin (13/7).

Ia menjelaskan masyarakat tetap merasakan harga kedua komoditas tersebut mahal karena penurunan atau kenaikan harganya memang sudah tidak terlalu besar, tetapi level harganya masih tinggi.

Untuk minyak goreng, BPS mencatat harga rata-rata nasional kini mencapai Rp20.224 per liter. Meski baru 97 kabupaten/kota atau sekitar 26,94 persen wilayah Indonesia yang mengalami kenaikan indeks perkembangan harga (IPH), harga komoditas tersebut dinilai masih perlu menjadi perhatian.

"Walaupun memang hanya 97 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan IPH minyak goreng, namun karena minyak goreng ini sudah tinggi harganya maka perlu menjadi perhatian," tutur Winny.

Winny juga menyoroti harga minyak goreng Minyakita di pasar rakyat yang kini telah melampaui harga eceran tertinggi (HET). Berdasarkan data SP2KP Kementerian Perdagangan, rata-rata harga Minyakita sudah mencapai Rp16.380 per liter, atau berada di atas HET sebesar Rp15.700 per liter.

Selain itu, sekitar 40 kabupaten/kota juga masih mencatat kenaikan harga Minyakita dengan lonjakan tertinggi terjadi di Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara yang naik 44,59 persen.

Di sisi lain, harga beras secara nasional saat ini tercatat mencapai Rp15.499 per kilogram. BPS mencatat terdapat 128 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga beras hingga pekan kedua Juli 2026. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan pekan pertama Juli.

Kenaikan harga beras juga terjadi di 29 provinsi. Sementara itu, harga beras tercatat stabil di Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Banten, Papua Selatan, dan Papua Pegunungan. Sebaliknya, beberapa provinsi mulai mengalami penurunan harga beras, yakni Jawa Timur, Sumatera Barat, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat.

Winny mengatakan dibandingkan beras dan minyak goreng, sejumlah komoditas pangan lain justru mulai menunjukkan perbaikan harga.

Harga cabai merah, misalnya, kini rata-rata berada di Rp49.418 per kilogram, atau sudah berada di bawah batas atas harga acuan penjualan (HAP) konsumen. Penurunan harga cabai merah juga terjadi di banyak daerah, dengan 243 kabupaten/kota mencatat penurunan harga.

Meski demikian, masih ada beberapa wilayah yang mengalami kenaikan harga cabai merah, antara lain Kabupaten Deiyai, Timor Tengah Utara, Mahakam Ulu, Fakfak, Alor, Seram Bagian Timur, Maybrat, dan Rote Ndao.

BPS juga mencatat tren penurunan harga bawang merah mulai meluas. Hingga pertengahan Juli, hanya 55 kabupaten/kota yang masih mengalami kenaikan harga bawang merah, sementara 270 kabupaten/kota sudah mencatat penurunan harga.

Sementara itu, harga daging ayam ras kini berada di kisaran Rp37.273 per kilogram. Harga telur ayam ras juga telah turun menjadi sekitar Rp29.200 per kilogram, atau sudah berada di bawah HAP konsumen.

Meski secara nasional harga telur mulai membaik, Winny mengatakan masih terdapat sejumlah kabupaten/kota yang mencatat harga jauh di atas HAP, bahkan mencapai 93,3 persen hingga 106,67 persen lebih tinggi dibanding harga acuan.

"Dengan demikian yang perlu mendapatkan perhatian kita saat ini adalah bawang putih, beras, dan minyak goreng," ujar Winny.

[Gambas:Youtube]

(del/pta) Add as a preferred
source on Google