Pungutan Ekspor Sawit Akan Dipakai Subsidi Harga B50 ke Petani-Nelayan

CNN Indonesia
Jumat, 10 Jul 2026 19:30 WIB
Peluncuran B50 Oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto di Karawang, Kamis, 9 Juli 2026.
Bahlil memastikan petani dan nelayan bakal mendapatkan harga B50 lebih murah karena harganya disubsidi tanpa menggunakan APBN. (Foto: Tangkapan Layar Youtube Kementerian ESDM)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan petani dan nelayan bakal mendapatkan harga lebih murah untuk pembelian bahan bakar jenis terbaru B50.

Sebab, pemerintah akan memakai anggaran pungutan ekspor sawit untuk menyubsidi harga B50 untuk petani dan nelayan.

Bahlil mengungkap subsidi harga diberikan karena beberapa bulan terakhir dana pungutan ekspor sawit yang dikelola Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) ternyata surplus. Kondisi itu disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pak Menko hari ini baik sekali. Jadi ternyata tiga bulan terakhir, dana BPDP itu surplus, tidak dipakai-pakai. Jadi tadi saya bilang, Bapak Presiden kita ini sangat sayang petani sama nelayan, jangan kita membuat petani dan nelayan itu harganya mahal," ujar Bahlil dalam pidatonya di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Kamis (9/7).

Dengan kondisi ini, maka pemerintah memutuskan akan mensubsidi harga B50 untuk petani dan nelayan agar nelayan mendapatkan dengan harga yang lebih murah.

"Jadi tanpa APBN Pak, tadi Pak Menko (Airlangga Hartarto) menyampaikan bahwa akan memakai dana sebagian BPDP untuk menurunkan harga B50 di tingkat petani dan nelayan," kata Bahlil.

Nelayan yang bisa mendapatkan harga B50 lebih murah adalah yang memiliki kapal di bawah 30 Gross Tonnage (GT). Kelompok ini merupakan nelayan yang hasil tangkapan ikannya ada di skala menengah.

Di sisi lain, Bahlil menyebutkan program mandatory B50 memberikan dampak ekonomi nyata ke negara. Penghematan devisa diklaim mencapai Rp170 triliun per tahun, dan meningkatkan nilai tambah industri CPO sekitar Rp23,49 per tahun.

Tak hanya itu, B50 juga dinilai akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja dari sekitar 2,1 juta orang.

"Dan lebih dari itu dalam rangka menjaga bumi kita adalah meningkatkan penurunan emisi gas rumah kaca dari 39,66 juta ton CO2 menjadi sekitar 44,46 juta ton CO2. Jadi dia menurunkan konsumsi peredaran CO2 kita," pungkasnya.

[Gambas:Youtube]

(ldy/pta) Add as a preferred
source on Google