Bahlil soal Ekspor Listrik RI ke Singapura: Kita Masih Negosiasi Harga

CNN Indonesia
Selasa, 07 Jul 2026 13:11 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjawab pertanyaan wartawan di Istana Merdeka, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (16/4/2026). Menteri ESDM melaporkan hasil pertemuan dengan utusan khusus Presiden Rusia Vladimir Putin dan Menteri ESDM Rusia
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan penentuan harga listrik Indonesia yang diekspor ke Singapura masih dalam tahap negosiasi. (ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA S).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan penentuan harga listrik Indonesia yang diekspor ke Singapura masih dalam tahap negosiasi.

Ia menekankan harga yang disepakati harus memberikan keuntungan seimbang bagi Indonesia dan Singapura.

"Terkait dengan harga listrik ke Singapura, proses tahapannya berjalan, tetapi kita masih menegosiasikan harga. Regulasi kita memang menempatkan harga itu di pemerintah. Kita ingin ada win-win, saling menguntungkan," ujar Bahlil dalam keterangan resmi, Selasa (7/7).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rencana ekspor listrik RI ke Singapura dibahas dalam pertemuan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong dengan pemerintah Indonesia di Istana Merderka, Jakarta, Senin kemarin.

Pembahasan terkait rencana ekspor itu menjadi kelanjutan dari kerja sama sektor energi yang telah disepakati sejak tahun lalu. Selain ekspor listrik hijau, pembahasan termasuk pengembangan kawasan industri hijau, serta carbon capture and storage (CCS).

"Dari satu tahun lalu kan kita sudah melakukan penandatanganan MoU. Ada tiga MoU kita. Satu adalah ekspor listrik ke Singapura, listrik hijau, kedua kawasan industri hijau, dan yang ketiga adalah untuk carbon capture storage atau CCS-nya. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang kita tandatangani sejak tahun kemarin," ujar Bahlil usai pertemuan tersebut.

Indonesia, sambung Bahlil, menginginkan kesepakatan yang tidak hanya membuka peluang ekspor energi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang seimbang bagi kedua negara.

"Kerja sama itu harus saling menguntungkan kedua pihak. Tinggal di titik itu saja dan saya pikir sebentar lagi akan ada titik temu," ungkapnya.

Rencana perdagangan listrik lintas batas menjadi bagian dari penguatan hubungan ekonomi kedua negara, khususnya dalam pengembangan energi hijau dan transisi energi. Namun, penyelesaian negosiasi harga tetap menjadi penentu agar kerja sama tersebut dapat segera diimplementasikan.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menunjuk BPI Danantara sebagai eksportir listrik ke Singapura. Hal ini disepakati dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong.

Dalam pertemuan keduanya, ada 26 capaian nyata dan capaian konkret di berbagai bidang, yaitu 18 kesepakatan kerja sama antarpemerintah dan 8 kesepakatan antarpelaku usaha (business-to-business). Salah satunya, penjualan listrik tersebut.

"Indonesia telah menunjuk BPI Danantara untuk implementasi kerja sama perdagangan listrik lintas batas, serta berbagai kegiatan di bidang perdagangan, energi, ekonomi digital, ekosistem digital, dan keamanan siber. Kita telah melakukan diskusi dan mencapai hasil-hasil yang cukup konkret," ujar Prabowo dalam konferensi pers di Istana Negara, Senin (6/7).

Selain sektor energi, pertemuan Indonesia dan Singapura juga membahas berbagai agenda kerja sama bilateral, mulai dari perdagangan, investasi, konektivitas, ekonomi digital, keamanan siber, hingga pertahanan.

[Gambas:Video CNN]

(sfr/ins) Add as a preferred
source on Google