Harga Minyak Dunia Naik ke US$72,3 saat Pasar Cermati Kenaikan Pasokan

CNN Indonesia
Selasa, 07 Jul 2026 09:21 WIB
Infrastruktur bahan bakar minyak (BBM) milik PT AKR Corporindo Tbk. (Dok. AKR Corporindo).
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 29 sen atau 0,26 persen menjadi US$68,84 per barel pada pukul 00.46 GMT. (FOTO:Dok. AKR Corporindo).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia naik tipis pada perdagangan Selasa (7/7) seiring pelaku pasar mulai mengalihkan perhatian dari meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah ke prospek peningkatan pasokan dan permintaan minyak.

Berdasarkan laporan Reuters, kontrak berjangka minyak Brent naik 28 sen atau 0,39 persen menjadi US$72,29 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 29 sen atau 0,26 persen menjadi US$68,84 per barel pada pukul 00.46 GMT.

Sehari sebelumnya, kedua acuan harga minyak tersebut ditutup di kisaran level sebelum pecahnya perang antara Iran vs Amerika Serikat (AS).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala Analis Pasar KCM Trade Tim Waterer mengatakan langkah menuju pemulihan pasokan telah meredakan premi risiko jangka pendek di pasar minyak. Meski begitu, pelaku pasar masih berhati-hati terhadap keberlanjutan gencatan senjata.

"Pasar masih berhati-hati untuk terlalu percaya terhadap stabilitas gencatan senjata saat ini, mengingat hubungan AS-Iran yang kerap berubah-ubah," ujarnya.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin mengatakan negaranya akan mencapai kesepakatan dengan Iran atau "menyelesaikan urusan tersebut".

[Gambas:Youtube]

Ia juga kembali mengancam aksi militer apabila Teheran menunjukkan sikap menantang setelah pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Investor pun disebut terus mencermati perundingan antara AS dan Iran terkait kelancaran pelayaran melalui Selat Hormuz, sekaligus memantau pemulihan ekspor minyak dari kawasan Teluk.

Di sisi pasokan, Uni Emirat Arab dilaporkan meningkatkan produksi minyak mentah menjadi lebih dari 3,8 juta barel per hari pada Juni.

Berdasarkan estimasi Reuters, angka itu menjadi yang tertinggi sejak April 2020 dan melampaui produksi sebelum perang Iran vs Amerika Serikat. Uni Emirat Arab telah keluar dari kuota produksi OPEC+ pada Mei yang lalu.

"Kami akan mencermati tanda-tanda awal pemulihan permintaan, terutama dari China. Pasar sudah memperhitungkan banyak kabar positif dari sisi pasokan, sehingga arah pergerakan harga minyak selanjutnya akan bergantung pada apakah kondisi riil sesuai dengan optimisme yang berkembang," kata Waterer.

Sementara itu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak atau Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia, pada Minggu sepakat kembali menaikkan target produksi sebesar 188 ribu barel per hari mulai Agustus.

Sebelumnya, OPEC juga menyetujui kenaikan produksi dengan besaran yang sama untuk Juni dan Juli.

Di sisi lain, Arab Saudi memangkas official selling price (OSP) minyak mentah Arab Light untuk pengiriman Agustus ke Asia menjadi US$1,50 per barel di bawah rata-rata harga Oman/Dubai.

Menurut pernyataan harga Saudi Aramco yang dirilis pada Senin (6/7), pemangkasan sebesar US$11 dibandingkan bulan sebelumnya itu menjadi yang terbesar dalam lebih dari dua dekade.

(dhz/ins) Add as a preferred
source on Google