Bulog Siap Penuhi Ekspor 10 Ribu Ton ke Singapura

CNN Indonesia
Selasa, 30 Jun 2026 04:45 WIB
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mempersilakan masyarakat menukar produk Minyakita produksi PT Kusuma Mukti Remaja (KMR) yang terindikasi berbau solar.

Warga cukup membawa kemasan atau sisa minyak yang masih berbau untuk ditukarkan
Bos Bulog Ahmad Rizal Ramdhani memastikan pihaknya siap memenuhi rencana ekspor 10 ribu ton beras ke Singapura. (FOTO:CNN Indonesia/ Dela Naufalia).
Jakarta, CNN Indonesia --

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani memastikan pihaknya siap memenuhi rencana ekspor 10 ribu ton beras ke Singapura. Sebagai persiapan, Bulog telah menyiapkan sekitar 200 ribu ton beras premium dengan spesifikasi pecahan 5 persen yang siap dikirim sewaktu-waktu.

"Yang 10 ribu ton (wacana ekspor ke Singapura) tersebut jadi kita sudah siapkan. Kami juga sudah stok kalau enggak salah sekarang ada sekitar 200 ribu ton yang sudah standby dengan kriteria beras premium pecahan 5 persen. Kalau sewaktu-waktu diminta cepat, kita bisa kirimkan," kata Rizal dalam konferensi pers di Gudang Bulog Kanwil DKI Jakarta, Jakarta Utara, Senin (29/6).

Rizal mengatakan kesiapan tersebut merupakan tindak lanjut dari penjajakan ekspor beras yang sebelumnya dibahas Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bersama Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura Grace Fu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain untuk memenuhi potensi ekspor ke Singapura, stok beras premium tersebut juga disiapkan bersamaan dengan rencana pemenuhan permintaan beras dari Malaysia.

"Yang 10 ribu ton tersebut jadi kita sudah siapkan bareng dengan nanti proses yang untuk 500 ribu ton pesanan dari Malaysia," ujarnya.

Menurut Rizal, tingginya produksi gabah nasional pada tahun ini membuat serapan beras Bulog meningkat signifikan. Hingga akhir Juni, Bulog telah menyerap lebih dari 3,2 juta ton beras atau sekitar 80 persen dari target pengadaan sebanyak 4 juta ton.

[Gambas:Youtube]

"Serapan sampai bulan Juni ini sudah mencapai 80 persen dari total target 4 juta ton, berarti lebih dari 3,2 juta ton. Ini masih ada enam bulan lagi ke depan. Jadi prediksi kami serapan kami mungkin bisa di atas 4,5 (juta ton) atau bahkan sampai 5 juta ton," katanya.

Rizal mengatakan tingginya serapan tersebut membuat Bulog perlu memperluas penyaluran beras, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga ke pasar ekspor.

Selain Singapura, Bulog juga tengah menjajaki sejumlah peluang ekspor ke negara lain. Salah satunya Malaysia yang disebut memiliki potensi permintaan hingga 500 ribu ton beras.

"Yang pertama adalah untuk program ke Malaysia yang 500 ribu ton. Mungkin dalam waktu dekat kami akan ke Malaysia untuk mendiskusikan harga yang cocok sesuai dengan penawaran," ujarnya.

Ia menambahkan Uni Emirat Arab (UEA) juga telah menyampaikan minat untuk mengimpor sekitar 50 ribu ton beras per bulan atau setara 600 ribu ton dalam setahun. Selain itu, terdapat peluang ekspor ke Timor Leste dan Papua Nugini (PNG).

"Kemarin juga Uni Emirat Arab sempat meminta, kalau enggak salah per bulannya minta 50 ribu ton. Kalau setahun berarti sampai 600 ribu ton. Ditambah lagi ke depan adanya potensi dari Singapura maupun negara-negara tetangga kita, Timor Leste maupun PNG," katanya.

Sebelumnya, Mentan Amran mengungkapkan pemerintah menawarkan ekspor sedikitnya 10 ribu ton beras ke Singapura dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura Grace Fu.

Menurut Amran, peluang ekspor tersebut didukung stok beras nasional yang telah mencapai sekitar 5,1 juta ton, sehingga Indonesia memiliki ruang untuk mulai memasok kebutuhan beras negara tetangga tersebut.

Amran menjelaskan pembahasan kerja sama akan dilanjutkan secara lebih rinci, termasuk untuk komoditas pangan lain yang dibutuhkan Singapura.

"Kami mengusulkan ekspor minimal 10 ribu ton beras dari Indonesia ke Singapura. Selain itu, kami juga ingin meningkatkan kerja sama untuk komoditas ayam, telur, minyak sawit, serta memperkuat pertukaran teknologi pertanian. Ini menjadi langkah kolaborasi yang saling menguntungkan bagi kedua negara," kata Amran dalam keterangan resmi, Senin (29/6).

(del/ins) Add as a preferred
source on Google