Kurs Rupiah Nyaris Rp18 Ribu Lagi, Apa Bahayanya bagi Dompet Warga RI?
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kian merosot hingga hampir menyentuh level Rp18 ribu. Mata uang Garuda melemah 9 poin atau 0,05 persen ke Rp17.943 per dolar AS pada perdagangan Kamis (25/6) sore.
Pelemahan rupiah ini menjadi alarm bagi dompet masyarakat karena diprediksi dapat memicu efek domino dari lonjakan harga, termasuk barang pokok seiring meroketnya biaya impor bahan baku.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai dampak pelemahan rupiah terasa langsung pada kehidupan sehari-hari karena Indonesia masih bergantung pada impor untuk berbagai kebutuhan, mulai dari bahan baku industri, komponen elektronik, gandum, kedelai, hingga bahan baku obat-obatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yusuf menjelaskan ketika nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah, biaya impor naik dalam rupiah dan pada akhirnya diteruskan ke harga jual sehingga disebut terjadinya inflasi barang impor (imported inflation).
"Inilah yang dikenal sebagai imported inflation. Kenaikan harga kemudian tidak hanya dirasakan oleh masyarakat kota yang mengonsumsi barang impor, tetapi juga oleh petani dan pelaku usaha yang bergantung pada pupuk, pakan ternak, bahan bakar, atau input produksi lain yang memiliki komponen impor," ujar Yusuf kepada CNNIndonesia.com, Kamis (25/6).
Ia menegaskan dengan inflasi yang terjadi akibatnya daya beli masyarakat tergerus secara perlahan, tetapi tidak dibarengi dengan kenaikan pendapatan.
"Akibatnya, daya beli masyarakat tergerus secara perlahan karena harga berbagai kebutuhan naik, sementara pendapatan tidak selalu meningkat dengan kecepatan yang sama," pungkasnya.
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita menerangkan pelemahan rupiah yang terjadi dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik.
Dari sisi global, menurutnya, penguatan dolar AS biasanya dipicu oleh kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat dan kondisi ketidakpastian global yang membuat investor cenderung mencari aset yang lebih aman (flight to safety). Hal ini menyebabkan arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Sementara dari sisi domestik, faktor seperti defisit transaksi berjalan, kebutuhan impor yang tinggi, serta persepsi pasar terhadap prospek ekonomi dan fiskal juga turut memengaruhi.
"Jadi meskipun sebelumnya rupiah sempat menguat, perubahan sentimen global yang cepat dapat dengan mudah membalikkan arah tersebut," ungkap Ronny.
(fln/pta) Add
as a preferred source on Google