Prabowo Sindir Pengkritik MBG: Perut Lapar Tak Segera Diisi Bisa Mati

CNN Indonesia
Rabu, 24 Jun 2026 13:07 WIB
Presiden Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Menengah Pertama 17 Tabanan, Bali, 7 Juni 2026
Prabowo menyindir kelompok penolak program MBG yang menilai ada persoalan lain lebih mendesak dibanding pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat. (Foto: Tangkapan layar youtube Sekretariat Presiden)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Prabowo Subianto menyindir kelompok penolak program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menilai ada persoalan lain yang lebih mendesak dibanding pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat.

Menurutnya, tidak ada kondisi yang lebih genting daripada perut lapar karena menyangkut kelangsungan hidup manusia.

"Saya kira enggak ada lebih genting dari perut lapar. Orang perut lapar itu kalau enggak segera diisi ya dia mati," kata Prabowo dalam acara Puncak Pekan Nasional Petani Nelayan XVII 2026 di Gorontalo, Rabu (24/6).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Prabowo juga menyoroti masih adanya kritik terhadap upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan dan menjalankan program MBG.

Sang Kepala Negara menyinggung pendapat sejumlah kalangan yang pernah mempertanyakan urgensi melindungi petani Indonesia dengan alasan petani dari negara lain dinilai lebih efisien dan produktif.

Menurut dia, pandangan tersebut terbukti tidak tepat, terutama ketika dunia menghadapi situasi krisis, termasuk saat pandemi covid-19.

"Ada yang mengatakan untuk apa melindungi petani Indonesia kalau petani Vietnam lebih efisien, kalau petani Vietnam lebih produktif. Saya kira ini pemikiran yang sesat," ujarnya.

Ia mencontohkan pengalaman selama pandemi covid-19 ketika sejumlah negara produsen pangan membatasi ekspor komoditas mereka demi memenuhi kebutuhan domestik.

Kondisi itu, kata Prabowo, menunjukkan pentingnya setiap negara menjaga kemampuan produksi pangan sendiri.

"Bayangkan dalam keadaan krisis waktu covid, kita mau impor, negara yang punya beras tidak mau izinkan berasnya keluar dari negaranya," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Prabowo juga menyinggung kritik terhadap program MBG. Penilaian terhadap program tersebut sebaiknya melihat langsung kebutuhan masyarakat yang menjadi sasaran, mulai dari anak-anak hingga kelompok petani dan nelayan.

"Ada juga yang enggak setuju MBG. Harusnya mereka yang enggak setuju MBG datang ke sini, tanya itu petani, nelayan, MBG perlu atau tidak? Tanya anak-anak MBG perlu atau tidak?" ujarnya.

Prabowo kemudian mengaitkan isu tersebut dengan meningkatnya ancaman krisis pangan global. Ia mengutip peringatan sejumlah lembaga internasional mengenai potensi bertambahnya jumlah penduduk dunia yang mengalami kelaparan.

Menurut dia, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) telah memberikan peringatan mengenai meningkatnya jumlah masyarakat yang menghadapi kerawanan pangan dalam beberapa tahun terakhir.

"PBB sudah meramalkan tahun ini kelaparan di dunia akan masif. Dua tahun yang lalu sekitar 300 juta orang kelaparan di dunia, diperkirakan sekarang sudah meningkat jadi 500 juta sampai 700 juta. FAO memberi warning," kata Prabowo.

[Gambas:Youtube]

(del/pta) Add as a preferred
source on Google