Harga Daging Ayam hingga Sapi Diramal Tetap Mahal di 2026 Gegara Ini

CNN Indonesia
Jumat, 19 Jun 2026 20:12 WIB
Pedagang memotong daging ayam di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (15/1). Bank Indonesia memperkirakan inflasi bulan Januari tahun ini sebesar 0,6 persen, lebih rendah dibanding inflasi Desember 2017 sebesar 0,71 persen dan Januari 2017 yang sebe
FAO menyebut mahalnya harga daging dipicu kombinasi pasokan ketat dari negara eksportir utama, tingginya permintaan impor hingga ketegangan geopolitik. (Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) memperkirakan harga daging global, termasuk daging ayam hingga daging sapi masih mahal sepanjang 2026.

Kenaikan harga daging dipicu kombinasi pasokan yang ketat di sejumlah negara eksportir utama, permintaan impor yang tetap kuat, serta gangguan akibat penyakit hewan dan ketegangan geopolitik.

Dalam laporan Food Outlook edisi Juni 2026, FAO menyebut produksi daging dunia memang masih tumbuh tahun ini, tetapi lajunya melambat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Produksi global diperkirakan hanya naik 1 persen menjadi 391 juta ton, sementara pasokan ekspor dari sejumlah negara produsen utama justru terbatas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Meski permintaan impor global tetap kuat, terbatasnya pasokan yang tersedia untuk diekspor diperkirakan akan membatasi ekspansi perdagangan daging dunia dan menjaga harga internasional tetap berada pada level tinggi," tulis FAO dalam laporannya.

FAO menjelaskan daging unggas masih menjadi motor utama pertumbuhan produksi global karena harganya relatif lebih murah dibanding jenis daging lain. Namun, pasokan daging sapi dan domba diperkirakan tetap ketat akibat proses pemulihan populasi ternak di sejumlah negara produsen besar.

"Pertumbuhan produksi daging global pada 2026 diperkirakan melambat, dengan daging unggas menjadi pendorong utama kenaikan produksi tahunan, sementara pasokan daging merah tetap ketat," tulis FAO.

Kondisi tersebut membuat harga daging dunia terus menguat sejak awal tahun. Berdasarkan Indeks Harga Daging FAO (FAO Meat Price Index/FMPI), harga rata-rata daging global pada Mei 2026 mencapai 130,5 poin, naik 4,5 persen dibanding Januari 2026 dan meningkat 6,3 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan paling tajam terjadi pada daging sapi. Harga daging sapi internasional melonjak 5,8 persen sepanjang Januari-Mei 2026 akibat berkurangnya pasokan ternak siap potong di Brasil serta tingginya permintaan dari AS dan China.

"Harga daging sapi mencatat kenaikan paling kuat, didorong oleh terbatasnya pasokan ternak siap potong di Brasil serta permintaan internasional yang tetap kuat, khususnya dari AS dan China," tulis FAO.

Selain sapi, harga daging babi global naik 5,2 persen, sedangkan harga daging domba meningkat 3,6 persen. Sementara itu, harga daging unggas hanya naik tipis 1,4 persen karena pasokan masih relatif melimpah meski permintaan terus bertambah.

FAO menilai ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang memperbesar tekanan harga. Konflik di kawasan tersebut mengganggu jalur pelayaran dan logistik internasional, mendorong kenaikan biaya energi, transportasi, serta pakan ternak.

"Konflik di Timur Tengah menambah tekanan terhadap harga energi dan ketersediaan pupuk, meningkatkan biaya produksi termasuk pakan, yang pada akhirnya menekan margin produsen," tulis FAO.

Menurut lembaga tersebut, dampak konflik juga terasa pada perdagangan daging unggas global. Timur Tengah menyumbang sekitar 16 persen permintaan daging unggas dunia sehingga gangguan distribusi di kawasan itu memengaruhi arus perdagangan internasional.

Di sisi lain, ancaman penyakit hewan juga masih membayangi industri peternakan global. FAO menyoroti penyebaran demam babi afrika (african swine fever/ASF) yang masih mengganggu produksi di sejumlah negara, serta penyakit mulut dan kuku (foot and mouth disease/FMD) yang mulai menyebar ke beberapa wilayah di Eropa dan Asia.

"Penyakit hewan yang terus berlanjut dan perubahan kebijakan perdagangan telah meningkatkan volatilitas pasar sekaligus memperkuat tekanan kenaikan harga," tulis FAO.

Untuk 2026, produksi daging sapi dunia diperkirakan turun 0,8 persen menjadi 76,9 juta ton. Penurunan terutama terjadi di Brasil, AS, China, dan Uni Eropa akibat proses pembangunan kembali populasi ternak yang membatasi jumlah pemotongan sapi.

Produksi daging domba juga diproyeksikan turun 0,8 persen menjadi 18,6 juta ton, terutama akibat berkurangnya pasokan dari Australia yang tengah memasuki fase pemulihan populasi ternak.

Sebaliknya, produksi daging unggas diperkirakan meningkat 2,5 persen menjadi 160,3 juta ton. China diperkirakan menjadi pendorong utama pertumbuhan tersebut berkat ekspansi kapasitas produksi dan pengolahan.

Meski demikian, FAO menilai peningkatan produksi unggas belum cukup untuk mengimbangi tekanan dari terbatasnya pasokan daging merah yang selama ini menjadi salah satu komponen utama konsumsi protein hewani dunia.

Secara keseluruhan, perdagangan daging dunia diperkirakan hanya tumbuh 1,1 persen menjadi 43,9 juta ton pada 2026. Kenaikan terutama berasal dari perdagangan daging unggas dan babi, sementara perdagangan daging sapi dan domba diperkirakan menyusut akibat keterbatasan pasokan ekspor.

[Gambas:Youtube]

(del/pta) Add as a preferred
source on Google