Zakat hingga Wakaf di Bulan Muharram Bisa Jadi Pendorong Ekonomi RI

CNN Indonesia
Selasa, 16 Jun 2026 18:15 WIB
Ilustrasi Umat Muslim bersedekah dengan materi. CNN Indonesia/Adhi Wicaksono.
Zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) bisa menjad instrumen penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mempercepat pengentasan kemiskinan di Indonesia. Ilustrasi. (Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah ekonom menilai Tahun Baru Islam 1 Muharram bisa menjadi momentum peningkatan aktivitas zakat, infak, sedekah, dan wakaf yang dapat menjadi instrumen mendorong pertumbuhan ekonomi dan mempercepat pengentasan kemiskinan.

Pengamat Ekonomi Syariah Institut Pertanian Bogor (IPB) Irfan Syauqi Beik mengungkapkan potensi dana sosial syariah nasional sangat besar.

Berdasarkan berbagai kajian, termasuk data Baznas, potensi zakat mencapai Rp327 triliun per tahun. Sementara, potensi wakaf uang diperkirakan sekitar Rp180 triliun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau dikombinasikan, potensi dana sosial ini bisa lebih dari Rp500 triliun per tahun. Bahkan untuk wakaf uang angkanya bisa jadi lebih besar dari itu," ujar Irfan kepada CNNIndonesia.com, Senin (15/6).

Meski demikian, realisasi penghimpunannya masih jauh dari potensi yang tersedia.

Irfan menyebut penghimpunan zakat nasional pada 2025 baru sekitar Rp41 triliun, meski meningkat dibanding tahun sebelumnya yang masih berada di kisaran Rp30 triliun.

Menurutnya, tren tersebut menunjukkan kesadaran masyarakat untuk menunaikan zakat terus meningkat dari tahun ke tahun.

"Tetapi dibandingkan potensinya yang Rp327 triliun, angkanya baru hampir mendekati 15 persen. Artinya ruang untuk peningkatan masih sangat besar," katanya.

Padahal, Irfan menilai dana ZISWAF memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional, terutama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mendukung pengembangan industri halal.

Ia mengatakan jika dikombinasikan dengan sektor halal value chain, kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) dapat meningkat dari sekitar 25 persen menjadi 27 persen.

Selain itu, dana zakat juga telah menjangkau lebih dari 1,5 juta penerima manfaat secara nasional, sementara aset wakaf banyak dimanfaatkan untuk sektor pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.

Pengamat Ekonomi Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengingatkan dampak ekonomi dari momentum Muharram akan lebih besar apabila lonjakan donasi masyarakat diarahkan ke program-program berkelanjutan.

"Muharram sering mendorong semangat berbagi dan santunan sosial. Dampaknya menjadi signifikan bila lembaga ZISWAF mengubah lonjakan donasi musiman menjadi program berkelanjutan seperti modal usaha mikro, beasiswa, bantuan pangan, layanan kesehatan, dan pelatihan kerja," ujar Syafruddin kepada CNNIndonesia.com/

Menurut Syafruddin, dana ZISWAF berpotensi memperkuat ekonomi rakyat karena dapat menjadi sumber pembiayaan sosial di luar anggaran negara.

"Jika dikelola profesional, ZISWAF dapat memperkuat ekonomi rakyat, membiayai UMKM, pendidikan, kesehatan, pangan, dan pemberdayaan keluarga miskin," ujarnya.

Dari perspektif ekonomi makro, ia menjelaskan penyaluran dana ZISWAF kepada kelompok berpendapatan rendah akan meningkatkan konsumsi rumah tangga karena tambahan pendapatan tersebut umumnya langsung dibelanjakan untuk kebutuhan pokok.

Efek tersebut dinilai mampu memperkuat permintaan domestik, menghidupkan pasar lokal, serta menopang usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

"ZISWAF juga mengurangi kemiskinan melalui bantuan konsumtif jangka pendek dan pemberdayaan produktif jangka panjang. Secara distribusi, zakat dan wakaf menahan konsentrasi kekayaan agar manfaat pertumbuhan tidak berhenti pada kelompok atas," katanya.

Lebih lanjut, Syafruddin menekankan pentingnya penguatan tata kelola, transparansi, digitalisasi, serta edukasi publik. Hal itu untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pengelola.

[Gambas:Video CNN]

(lau/sfr) Add as a preferred
source on Google