Ketahanan Pangan, Kunci Prabowo Amankan Ekonomi Indonesia
Presiden Prabowo Subianto mendorong agar pengamanan pangan nasional dan pencapaian swasembada pangan menjadi program utama pemerintah guna menjawab tantangan global, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan ekonomi dunia.
Prabowo menjelaskan, pengalaman krisis global seperti pandemi Covid-19, perang, hingga gangguan produksi pangan dunia menjadi pelajaran penting. Saat terjadi krisis, banyak negara pengekspor pangan menghentikan ekspor, menyebabkan lonjakan harga pangan dunia.
Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Prabowo dalam Rapat Paripurna DPR RI dengan agenda Penyampaian Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) RAPBN Tahun Anggaran 2027, beberapa waktu lalu.
"Program utama saya adalah mengamankan pangan Indonesia. Kita harus swasembada pangan," kata Prabowo.
Menurutnya, pada saat krisis itu, pemerintah bergerak cepat memperkuat produksi pangan nasional dan meningkatkan cadangan pangan. Hasilnya, kini produksi pangan Indonesia menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia.
Sementara, cadangan beras pemerintah yang pada Desember 2025 berada di angka 3,25 juta ton, per 10 Mei 2026 telah meningkat menjadi lebih dari 5,3 juta ton.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prabowo menyatakan, upaya tersebut sejalan dengan proyeksi berbagai lembaga dan pakar dunia bahwa Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi terbesar keempat atau kelima dunia pada 2045. Ia menambahkan, hal itu dapat menjadi motivasi untuk terus memperkuat ketahanan nasional, khususnya di sektor pangan dan pertanian.
Selain pangan, Prabowo juga menyinggung kontribusi besar sektor pertanian dan perkebunan terhadap perekonomian nasional. Saat ini, Indonesia adalah pengekspor minyak kelapa sawit terbesar di dunia dengan devisa ekspor minyak kelapa sawit mencapai US$23 miliar atau setara Rp391 triliun pada 2025.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor sektor pertanian pada Januari-Desember 2025 mencapai Rp756,59 triliun atau meningkat sekitar Rp166 triliun dibanding periode sebelumnya. Sementara itu, impor sektor pertanian turun sekitar Rp41 triliun, memperlihatkan bahwa sektor pertanian kini menjadi bantalan utama ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Selain itu, pemerintah juga memperkuat produksi pupuk nasional. Prabowo menyebut Indonesia turun tangan membantu sejumlah negara lain melalui pasokan pupuk, karena produksi dalam negeri yang surplus.
"Kita diminta bantuan pupuk oleh negara-negara lain karena produksi pupuk kita lebih," ujarnya.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyambut arahan Presiden Prabowo untuk mengamankan pangan nasional sebagai pegangan utama dalam mempercepat swasembada, dan memperkuat ketahanan pangan nasional.
"Arahan Bapak Presiden sangat jelas, pangan harus aman dan Indonesia harus semakin mandiri. Karena itu kami bergerak cepat meningkatkan produksi, memperkuat cadangan pangan, mempercepat tanam, memperbaiki irigasi, memastikan pupuk tersedia, hingga memperkuat hilirisasi agar manfaatnya langsung dirasakan petani," ujar Amran.
Adapun Kementerian Pertanian dipastikan terus mempercepat berbagai program strategis untuk menjaga momentum peningkatan produksi, serta memperkuat cadangan pangan nasional. Amran menyebut, peningkatan cadangan beras pemerintah saat ini membuktikan bahwa strategi penguatan produksi mulai menunjukkan hasil nyata.
"Ini hasil kerja bersama. Stok meningkat, produksi meningkat, dan petani semakin bergairah karena pemerintah hadir mengawal dari produksi hingga penyerapan," pungkas Amran.
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]