IHSG Terkoreksi usai Reli Dua Hari, Ada Apa?

CNN Indonesia
Kamis, 11 Jun 2026 15:00 WIB
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad melakukan sidak ke Bursa Efek Indonesia (BEI). Kunjungan dilakukan di tengah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang pagi ini masih tertekan. (CNN Indonesia/Adi ibrahim)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak fluktuatif dengan kecenderungan terkoreksi pada perdagangan Kamis (11/6) setelah sempat reli dua hari. (CNNIndonesia/Adi ibrahim).
Jakarta, CNN Indonesia --

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak fluktuatif dengan kecenderungan terkoreksi pada perdagangan Kamis (11/6) setelah reli dua hari beruntun.

Pada penutupan sesi I, IHSG ditutup anjlok 112,97 poin atau 1,91 persen ke level 5.789. Sebanyak 500 saham melemah, 185 menguat, serta 128 lainnya stagnan.

Padahal, pasar modal cenderung menanjak pada dua hari sebelumnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada penutupan perdagangan Selasa (9/6), IHSG melesat 404 poin atau naik 7,57 persen di 5.745. Sementara, pada penutupan perdagangan Rabu (10/6), indeks saham menguat 155,72 poin atau naik 2,71 persen ke 5.902.

Lantas, apa sentimen yang menekan pasar bursa saham RI hari ini?

Pengamat Pasar Keuangan Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan IHSG pada Kamis (11/6) didominasi oleh faktor eksternal dibandingkan internal.

Ia menyebut IHSG yang terkoreksi murni akibat ketegangan di Timur Tengah, terutama antara Iran dan Amerika yang terus memanas hingga Selat Hormuz ditutup kembali.

"Jadi, yang kalau seandainya tidak ada perang, tidak ada saling serang antara Amerika dan Iran, ya kemungkinan besar IHSG hari ini menguat," ujar Ibrahim kepada CNNIndonesia.com, Kamis (11/6).

Ibrahim menjelaskan ditutupnya Selat Hormuz membuat harga minyak mentah dunia kembali naik sehingga berimbas terhadap kebutuhan dolar AS yang terus meningkat.

"Permasalahan (sentimen negatif) kembali lagi (karena) harga minyak. Gara-gara memanasnya situasi Timur Tengah dan Iran menutup secara penuh Selat Hormuz," jelasnya.

Selain isu Timur Tengah, ia juga menyebutkan pasar juga sedang mencermati data inflasi dan ketenagakerjaan AS yang baru dirilis.

Data tersebut memberi sinyal bahwa bank sentral AS (The Federal Reserves/ The Fed) bisa tetap mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan lebih tinggi, sehingga pasar saham berfluktuasi.

"Ada indikasi bank sentral (The Fed) ini akan mempertahankan suku bunga tinggi dan menaikkan suku bunga, dan ini yang sebenarnya membuat IHSG berfluktuatif dalam perdagangan hari ini. Semoga tembak-menembak antara Iran dan Amerika dalam minggu ini kembali reda," ujar Ibrahim.

Sementara itu, Analis Senior Teknikal Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji mengatakan dari pelaku pasar domestik merespons positif hasil pertemuan strategis antara DPR, Himbara, BPJS, dan asuransi BUMN terkait komitmen penguatan pasar melalui aksi buyback saham.

Nafan menilai hal tersebut sukses memicu rebound IHSG sebesar 2,70 persen pada penutupan perdagangan Rabu (10/6).

"Selain itu, upaya Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga SRBI serta penguatan imbal hasil SBN dinilai mulai efektif menarik capital outflow guna menstabilkan nilai tukar Rupiah," terang Nafan.

Menurutnya, saat ini para pelaku pasar hari ini akan mencermati rilis data penjualan ritel periode April 2026.

"Data ini krusial sebagai indikator awal untuk mengukur kekuatan daya beli masyarakat serta laju konsumsi domestik," tambahnya.

[Gambas:Video CNN]

(fln/sfr) Add as a preferred
source on Google