Trump soal Harga Barang AS Naik Imbas Perang Iran: Saya Suka Inflasi

tim | CNN Indonesia
Kamis, 11 Jun 2026 15:20 WIB
Presiden AS Donald Trump mengungkapkan dirinya menyukai inflasi untuk merespons kenaikan harga yang terjadi di negaranya di tengah perang dengan Iran.
Presiden AS Donald Trump mengungkapkan dirinya menyukai inflasi untuk merespons kenaikan harga yang terjadi di negaranya di tengah perang dengan Iran. (REUTERS/Nathan Howard).
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya "menyukai inflasi" saat merespons kenaikan harga-harga yang terjadi di Negeri Paman Sam di tengah dampak perang dengan Iran.

Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan pada Rabu (10/6) ketika ditanya mengenai data pemerintah AS yang menunjukkan inflasi konsumen pada Mei meningkat lebih dari 4 persen, atau menjadi yang tercepat dalam tiga tahun terakhir.

"Saya suka inflasi," ujar Trump, melansir Reuters.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia kemudian menjelaskan alasan di balik pernyataannya tersebut dengan menyinggung keputusan pemerintah AS untuk memindahkan kapal tanker minyak secara diam-diam melalui Selat Hormuz di tengah kekhawatiran kenaikan biaya dan inflasi.

Trump menyebut langkah itu layak diambil meski berpotensi menambah tekanan harga dalam jangka pendek.

"Itu sepadan bagi saya," ujarnya.

Menurut Trump, kenaikan harga yang terjadi saat ini berkaitan dengan perang yang sedang berlangsung. Ia meyakini harga minyak akan kembali turun setelah konflik berakhir.

"Saat semuanya selesai, Anda akan melihat harga minyak turun ke level sebelumnya," ujar Trump.

Trump selama ini menggambarkan perang dengan Iran sebagai gangguan sementara dan menempatkannya sebagai isu keamanan nasional.

Penutupan Selat Hormuz oleh Teheran telah mendorong kenaikan harga bensin, pupuk, dan berbagai barang lainnya yang ikut berkontribusi terhadap inflasi.

Kenaikan harga juga berpotensi membuat bank sentral AS The Fed menunda penurunan suku bunga. Padahal, Trump sejak kembali menjabat tahun lalu terus mendorong pemangkasan suku bunga untuk menurunkan biaya pinjaman.

Di sisi politik, Partai Republik tengah berupaya mempertahankan kendali atas DPR dan Senat AS menjelang pemilu sela pada November mendatang.

Namun sejumlah kalangan di partai tersebut khawatir kenaikan biaya hidup dapat memicu reaksi negatif dari pemilih dan menguntungkan Partai Demokrat.

Trump sendiri memenangkan Pilpres 2024 antara lain dengan janji menekan inflasi. Namun sejak kembali berkuasa, tingkat persetujuan publik terhadap dirinya, termasuk terkait penanganan biaya hidup, dilaporkan menurun ke level terendah sepanjang karier politiknya.

Sementara itu, upaya membuka kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas kapal tanker hingga kini masih menghadapi hambatan.

Sejumlah eksekutif industri dan analis memperingatkan bahwa dalam beberapa pekan ke depan pasar masih berpotensi menghadapi guncangan harga minyak yang cukup besar hingga memengaruhi pasar keuangan secara lebih luas.

Bahkan jika AS dan Iran berhasil mencapai kesepakatan dalam waktu dekat, pemulihan pasokan diperkirakan membutuhkan waktu berbulan-bulan. Gangguan distribusi energi diprediksi masih dapat berlanjut hingga 2026.

Bulan lalu, Trump juga sempat menyatakan bahwa kondisi keuangan warga AS bukan faktor yang dipertimbangkannya dalam menghadapi Iran.

"Saya tidak memikirkan kondisi keuangan warga Amerika. Saya tidak memikirkan siapa pun. Saya memikirkan satu hal: kita tidak boleh membiarkan Iran memiliki senjata nuklir," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

(del/sfr) Add as a preferred
source on Google