Harga Minyak Melesat 2 Persen ke US$95 Usai Iran Tutup Selat Hormuz

CNN Indonesia
Kamis, 11 Jun 2026 10:15 WIB
A drone picture shows the Singapore-flagged LPG tanker Chrysopigi Lady, chartered by Trafigura, carrying the first shipment of Venezuelan liquefied petroleum gas to the United States, in Barcelona, Venezuela, January 29, 2026. Miraflores Palace/Hando
Harga minyak dunia melonjak lebih dari US$2 per barel pada Kamis (11/6), setelah Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz buntut serangan lanjutan AS. (Foto: via REUTERS/MIRAFLORES PALACE)
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia melonjak lebih dari US$2 per barel pada perdagangan Kamis (11/6), setelah Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz menyusul serangan lanjutan Amerika Serikat (AS) terhadap sejumlah target di wilayahnya.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik US$2,30 atau 2,47 persen menjadi US$95,40 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$2,60 atau 2,89 persen ke level US$92,63 per barel.

Kenaikan harga terjadi setelah komando militer gabungan tertinggi Iran mengumumkan penutupan kembali Selat Hormuz. Teheran menyatakan kapal tanker minyak maupun kapal komersial tidak lagi diperbolehkan melintas dan setiap kapal yang mencoba melewati selat tersebut akan menjadi sasaran tembak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski demikian, militer AS mengklaim kapal-kapal komersial masih tetap berlayar keluar masuk Selat Hormuz. Washington juga membantah laporan media Iran yang menyebut kapal perang AS di sekitar perairan tersebut menjadi sasaran rudal dan drone.

Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah pasukan AS melancarkan serangan tambahan terhadap sejumlah target di Iran pada Rabu (10/6) pukul 21.15 waktu setempat.

Aksi itu menjadi babak terbaru dari rangkaian serangan balasan kedua negara yang mengancam memicu kembali perang terbuka setelah gencatan senjata rapuh yang disepakati pada awal April.

Penutupan Selat Hormuz memperburuk kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global. Jalur pelayaran tersebut selama ini menjadi lintasan sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas dunia. Blokade yang telah berlangsung selama beberapa bulan membuat harga minyak tetap bertahan di level tinggi.

Dari sisi pasokan, data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun 7,2 juta barel menjadi 426,5 juta barel pada pekan yang berakhir 5 Juni. Penurunan itu lebih besar dibandingkan ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan penurunan sebesar 4 juta barel.

Sejak perang Iran dimulai pada 28 Februari lalu, total persediaan minyak mentah AS, termasuk cadangan strategis, telah menyusut sekitar 79 juta barel. Penurunan terjadi karena AS meningkatkan ekspor untuk menutupi kekurangan pasokan global akibat terganggunya arus pengiriman energi melalui Selat Hormuz.

[Gambas:Youtube]

(dly/pta) Add as a preferred
source on Google