DPR-Pemerintah Bahas Insentif untuk Warga Buntut Harga Pertamax Naik

CNN Indonesia
Kamis, 11 Jun 2026 18:40 WIB
Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun mengungkap DPR tengah menyiapkan revisi Undang-Undang Keuangan Negara melalui skema omnibus law.

Misbakhun mengatakan revisi dilakukan untuk menyinkronkan sejumlah aturan pasca pembentukan Badan Pengelola
Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun mengungkapkan pemerintah dan DPR saat ini tengah membahas kemungkinan pemberian stimulus atau insentif bagi masyarakat setelah harga BBM nonsubsidi Pertamax naik. (Foto: CNN Indonesia/ Endrapta Ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun mengungkapkan pemerintah dan DPR saat ini tengah membahas kemungkinan pemberian stimulus atau insentif bagi masyarakat setelah harga BBM nonsubsidi Pertamax naik.

Menurut Misbakhun, pembahasan tersebut dilakukan karena pengguna Pertamax dinilai memiliki karakteristik yang beririsan dengan pengguna Pertalite, sehingga perlu dipastikan bentuk bantuan yang tepat.

"Itu sedang dirumuskan. Tadi kita diskusinya di sana. Sudah didiskusikan, sedang lagi dilakukan upaya penghitungan apa yang nanti menjadi stimulus atau insentif sektor," ujar Misbakhun di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (10/6).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang pasti biasanya masyarakat yang menggunakan Pertamax itu kan masyarakat-masyarakat yang berhimpitan dengan Pertalite. Nah kita ingin pastikan apa sih yang mereka butuhkan sebagai stimulus," jelasnya.

Di sisi lain, Misbakhun menilai kenaikan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax tetap akan memberikan dampak terhadap inflasi Indonesia.

"Kalau kenaikan BBM biasanya selalu akan diikuti dengan kenaikan inflasi, pasti. Berapa persennya, nol koma sekiannya itu kita belum tahu," ujarnya.

Meski demikian, ia menilai dampak inflasi dari kenaikan Pertamax tidak akan sebesar jika kenaikan terjadi pada BBM yang banyak digunakan sektor industri.

"Pertamax ini kan lebih banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Bukan BBM industri yang biasanya memberikan tekanan yang paling berat itu kan adalah BBM industri," ujar Misbakhun.

Misbakhun juga mengamini kemungkinan terjadinya perpindahan konsumen dari Pertamax ke Pertalite setelah harga BBM nonsubsidi naik.

"Pasti orang kan begitu. Harga naik, orang kan mencari harga yang paling rendah. Untuk kalkulasinya, itu kan belum kita lakukan exercise-nya lebih dalam, nanti akan kita lihat impactnya seperti apa," ucapnya.

Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga BBM nonsubsidi mulai 10 Juni 2026. Harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sementara harga Pertamax Green 95 (RON 95) meningkat dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun mengatakan penyesuaian harga dilakukan setelah melalui evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah.

"Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah," kata Roberth dalam keterangan tertulis.

Ia menjelaskan keputusan tersebut juga telah dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator dengan mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia.

"Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat terus berjalan optimal," ujarnya.

Adapun harga Pertamax Turbo tetap Rp20.750 per liter. Sementara Pertamina Dex masih Rp24.800 per liter dan Dexlite Rp23.000 per liter.

Untuk BBM bersubsidi, harga Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Solar subsidi masih Rp6.800 per liter.

[Gambas:Youtube]

(dhz/pta) Add as a preferred
source on Google