Mendag Respons soal Cuan Pedagang Tempe-Tahu Tergerus Rupiah Lesu

CNN Indonesia
Selasa, 09 Jun 2026 08:55 WIB
Menteri Perdagangan Budi Santoso mencatat total transaksi Program Belanja Nasional 2025 mencapai Rp393,78 triliun.
Mendag Budi Santoso merespons keluhan sejumlah pedagang tahu dan tempe yang mengaku pendapatannya tergerus di tengah pelemahan rupiah. (CNN Indonesia/Dela Naufalia).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso merespons keluhan sejumlah pedagang tempe dan tahu yang mengaku pendapatannya tergerus di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Pemerintah, kata dia, saat ini terus memantau kondisi pasokan kedelai impor dan berupaya menjaga ketersediaannya agar tekanan terhadap harga tidak semakin besar.

Budi mengatakan pihaknya masih mencermati penyebab kenaikan harga yang terjadi di lapangan, termasuk kemungkinan dampak dari kenaikan harga bahan baku impor.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita terus memantau, masalahnya apakah karena harga impornya ya. Tapi kita terus menjaga pasokannya harus stabil. Tapi kita nanti lakukan pengawasan, jangan sampai naik terus ya (harga tempe)," kata Budi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (8/6).

Pernyataan itu disampaikan menyusul pengakuan sejumlah pedagang tahu dan tempe yang mulai merasakan dampak pelemahan rupiah.

Menurut Budi, hingga saat ini belum ada laporan resmi dari para pengrajin maupun pelaku usaha tahu dan tempe yang masuk ke Kementerian Perdagangan terkait kondisi tersebut.

"Belum, belum (ada laporan). Nanti kita lihat, karena kedelai kan impor semua ya. Jadi ketersediaannya harus kita jamin ya, dan nanti kita usahakan agar tidak semakin naik ya, jadi tempe juga bisa dikonsumsi dengan baik," ujarnya.

Ia menegaskan fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan pasokan kedelai impor tetap tersedia. Pasalnya, bahan baku utama produksi tahu dan tempe tersebut masih bergantung pada impor.

Budi menjelaskan tahu dan tempe tidak termasuk dalam kelompok komoditas kebutuhan pokok yang dipantau secara rutin melalui mekanisme harga acuan maupun harga eceran tertinggi (HET). Meski demikian, pemerintah tetap memperhatikan perkembangan harga dan pasokan di lapangan.

"Tempe tahu itu kan tidak termasuk kebutuhan pokok yang dipantau ya. Jadi yang dipantau (komoditas) di luar itu," katanya.

Di sisi lain, Kemendag juga terus menjaga stabilitas harga berbagai komoditas pangan pokok. Budi mencontohkan pemerintah telah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menyerap surplus telur ayam melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna menjaga harga di tingkat peternak.

Menurut dia, langkah serupa juga dapat dilakukan terhadap komoditas lain apabila harga mengalami tekanan akibat kelebihan pasokan.

Terkait kondisi pelaku usaha tahu dan tempe, Budi mengatakan pemerintah akan mempelajari lebih lanjut situasi yang terjadi di lapangan serta membuka ruang komunikasi untuk mencari solusi yang tepat.

"Nanti kita pelajari lagi ya, itu kan memang kedelai itu dari impor. Jadi kita usahakan pasokannya terjaga dan nanti bisa kita komunikasikan, kita carikan solusinya nanti yang terbaik. Tapi yang penting pasokan impornya harus terjaga dulu ya," ujarnya.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumya menyebut pelemahan rupiah mulai menekan keuntungan pedagang tahu dan tempe karena kenaikan biaya bahan baku impor. Ia mengatakan sejumlah pedagang bahkan terpaksa menaikkan harga jual untuk menutup lonjakan biaya produksi.

Di lapangan, sejumlah pedagang mengaku mulai merasakan penurunan pendapatan. Pedagang tempe di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Joni, misalnya, memperkirakan omzetnya turun sekitar 35 persen dalam sebulan terakhir akibat berkurangnya jumlah pembeli.

Sementara itu, pedagang sayur di kawasan Serdang, Kemayoran, Siti Ayu, mengaku omzet hariannya turun dari sekitar Rp4 juta menjadi Rp3,5 juta atau berkurang sekitar 12,5 persen.

Untuk mempertahankan harga jual, ia memilih memperkecil ukuran tempe dan tahu yang dijual kepada konsumen.

[Gambas:Video CNN]

(del/sfr) Add as a preferred
source on Google