Kementan Ungkap Harga Sapi Perah Impor Meroket Imbas Rupiah Loyo

CNN Indonesia
Selasa, 02 Jun 2026 16:50 WIB
Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkap pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai berdampak pada harga sapi perah impor.
Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkap pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai berdampak pada harga sapi perah impor. Ilustrasi. (MasimbaTinasheMadondo/Pixabay).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkap pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai berdampak pada harga sapi perah impor yang dibutuhkan untuk menambah populasi ternak nasional.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Makmun mengatakan kenaikan harga tersebut terjadi di tengah upaya pemerintah mempercepat peningkatan produksi susu dalam negeri yang saat ini masih bergantung pada impor.

Pada perdagangan Selasa (2/6) sore, nilai tukar rupiah berada di level Rp17.839 per dolar AS atau melemah 0,19 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pelemahan kurs tersebut dinilai ikut memengaruhi biaya impor sapi perah maupun bahan baku susu yang masih banyak didatangkan dari luar negeri.

"Memang sekarang ada kenaikan harga sapi perah (imbas menguatnya dolar AS). Umumnya kita ngambilnya dari Australia," kata Makmun dalam konferensi pers di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Selasa (2/6).

Menurut Makmun, Australia masih menjadi salah satu sumber utama sapi perah impor Indonesia karena faktor kedekatan geografis. Kendati, Indonesia juga membuka peluang impor dari negara lain seperti Selandia Baru dan sejumlah negara lainnya.

Ia menjelaskan kenaikan kurs dolar ikut mendorong kenaikan harga sapi perah yang didatangkan dari luar negeri. Namun, peningkatannya sejauh ini dinilai masih relatif terbatas.

"Tahun kemarin rata-rata teman-teman mengimpor harga sekitar Rp45 juta per ekornya sapi perah bunting. Tahun ini tidak sampai Rp50 juta. Ada kenaikan, tapi tidak sampai ke Rp50 juta," ujarnya.

Makmun mengatakan impor sapi perah masih menjadi salah satu strategi pemerintah untuk mempercepat peningkatan populasi ternak.

Langkah tersebut dilakukan karena produksi susu nasional saat ini baru mampu memenuhi sekitar 20-25 persen kebutuhan dalam negeri, sementara sisanya masih dipenuhi dari impor.

Dampak pelemahan rupiah juga dirasakan industri pengolahan susu yang masih mengandalkan bahan baku impor dalam jumlah besar.

Dalam kesempatan sama, General Manager R&D Health and Wellness Divisi Dairy PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Tjatur Lestijaman mengatakan sekitar 80 persen kebutuhan susu nasional masih berasal dari impor sehingga fluktuasi nilai tukar dolar berpengaruh langsung terhadap biaya produksi.

"Karena 80 persen dari kebutuhan susunya masih impor dan harganya juga terpaut dengan dolar, sedikit banyak memang ada pengaruh terhadap biaya bahan baku," kata Tjatur.

Meski demikian, ia menegaskan perusahaan tak serta-merta membebankan seluruh kenaikan biaya tersebut kepada konsumen.

"Tetapi kami berkomitmen bahwa itu tidak akan kami pass on 100 persen kepada konsumen. Jadi kita masih melihat bahwa masyarakat perlu ada daya beli yang masih bisa, masih terjangkau oleh masyarakat," ujarnya.

Untuk meredam dampak kenaikan biaya, perusahaan menjalankan berbagai program efisiensi di pabrik dan rantai pasok. Menurut Tjatur, langkah tersebut membuat dampak pelemahan rupiah terhadap biaya produksi masih dapat ditekan.

"Sehingga dampaknya itu kita bisa tidak lebih sampai 10 persen," katanya.

Ia berharap peningkatan produksi susu lokal ke depan dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor sehingga industri tidak terlalu rentan terhadap gejolak eksternal seperti pergerakan nilai tukar dolar.

Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kemenko Pangan Widyastuti mengakui pelemahan rupiah memang berdampak terhadap sektor susu nasional.

"Ada pengaruh (pelemahan rupiah ke produksi susu nasional)? Jelas. Mesti ada," ujarnya.

Menurut dia, pemerintah bersama kementerian, pelaku usaha, peternak, dan asosiasi tengah menyiapkan berbagai langkah jangka pendek maupun jangka panjang untuk mengurangi dampak tersebut.

Dalam jangka pendek, pemerintah berupaya menjaga pasokan susu impor tetap tersedia, termasuk melalui kontrak pembelian jangka panjang untuk mengurangi risiko fluktuasi harga akibat perubahan kurs.

Selain itu, pemerintah mendorong diversifikasi negara pemasok susu serta melakukan efisiensi rantai pasok agar biaya logistik dan penyimpanan dapat ditekan.

"Menjaga ketersediaan pasokan susu impor itu tetap ada. Jadi ada mungkin dari pemanfaatan kontrak pembelian jangka panjang yang bisa mengurangi risiko terjadi fluktuasi naik turun," ujar Widyastuti.

Sementara untuk jangka menengah dan panjang, pemerintah fokus meningkatkan produktivitas peternak, mengembangkan sentra sapi perah baru, memperkuat kemitraan, hingga memperluas akses pembiayaan murah bagi peternak.

"Lalu kita berharap adanya juga dukungan dari pembiayaan yang bisa di mana ada kredit yang mempunyai bunga rendah untuk sisi peternak. Sehingga peternak itu semakin termotivasi untuk melakukan produksi lebih bagus lagi," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

(del/sfr) Add as a preferred
source on Google