FOMO, Viral dan Penopang Bisnis di Episentrum Blok M
Sudut Melawai sore itu tidak lagi sama. Kawasan Blok M yang sempat meredup di telan waktu, kini kembali berdenyut, bertalu-talu oleh langkah kaki ratusan anak muda yang memadati trotoarnya.
Tim CNNIndonesia.com menyaksikan sendiri pada Selasa (26/5) sore, bagaimana kawasan legendaris di Jakarta Selatan ini mendadak menjelma sebagai episentrum baru tempat nongkrong, berburu kuliner, hingga berburu visual estetik demi eksistensi di dunia maya.
Di tengah ramainya anak muda yang memadati Blok M, berbagai usaha baru ikut bermunculan. Salah satunya Picturememories.id atau Pictme Photobox yang berada di depan kedai Mie Star, Blok M.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tempat ini bukan sekadar bilik foto biasa. Ia adalah mesin waktu modern yang menawarkan cetakan memori berukuran besar, dengan frame bernuansa kertas koran lawas-sebuah nostalgia visual yang dihargai Rp40 ribu per lembar, namun bernilai tinggi di media sosial.
Lihat Juga :Jogja Financial Festival Para Pemburu Informasi Beasiswa LPDP di Jogja Financial Festival |
Staff Marketing Picturememories.id Ramzul Aghna mengatakan Pictme cabang Blok M mulai beroperasi sejak akhir Desember 2025. Menurutnya, kawasan itu dipilih karena memiliki trafik pengunjung yang tinggi, terutama dari kalangan anak muda.
"Sebagai masyarakat Jakarta, kita tahu dulu Blok M Square sebelum seramai ini. Sekarang jadi sudut pandang anak-anak muda, kulturnya Jakarta. Jadi pusatnya nongkrong," ujar Ramzul kepada CNNIndonesia.com, Selasa (26/5).
Pictme sendiri berdiri sejak 2023 dengan basis awal di Bogor. Dalam perjalanannya, usaha photobox itu berkembang dari dua cabang menjadi tujuh cabang pada 2024, lalu sekitar 13 cabang pada 2025. Tahun ini, mereka menargetkan punya 18 cabang.
Menurut Ramzul, tren photobox koran yang kini ramai di Blok M tidak lepas dari budaya viral dan fenomena fear of missing out (FOMO) di masyarakat.
Lihat Juga :EDUKASI KEUANGAN Rupiah Tembus Rp17.600, Masihkah Tepat Investasi Dolar? |
"Kebanyakan itu karena viral, FOMO. Di Indonesia tingkat FOMO-nya tinggi banget," ujarnya.
Ia menyebut mayoritas pelanggan di Blok M merupakan perempuan dengan rentang usia sekitar 17 hingga 34 tahun. Tingginya antusiasme pengunjung bahkan sempat membuat antrean mengular pada awal pembukaan booth mereka.
"Dulu waktu awal-awal selama satu bulan selalu antre," katanya.
Ramzul menilai suasana Blok M kini jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Jika sebelumnya kawasan tersebut identik dengan thrifting dan toko pakaian, kini aktivitas kuliner hingga activation brand mulai mendominasi.
Lihat Juga : |
"Sekarang activation kayak photobooth, terus brand-brand activation lainnya mulai masuk ke Blok M Square. Dulu belum seramai ini," ujarnya.
Menurut dia, lokasi menjadi faktor utama bagi pelaku usaha yang ingin masuk ke Blok M. Selain itu, produk dan harga juga harus disesuaikan dengan karakter pengunjung kawasan tersebut.
"Yang pertama tempat, terus fokus ke produk apa yang mau dijual, terakhir harga. Di Blok M kita enggak bisa terlalu mahal," ujar Ramzul.
Di tengah ramainya persaingan usaha, Ramzul berharap Blok M tetap menjadi salah satu pusat berkumpul anak muda Jakarta.
"Semoga Blok M tetap menjadi traffic nomor satu buat anak-anak nongkrong di Jakarta," ujarnya.
Keramaian Blok M juga dirasakan pelaku usaha kuliner seperti EM Gelato. Gerai es krim gelato itu mulai beroperasi di kawasan Blok M sekitar 2024, bahkan sebelum kawasan tersebut kembali ramai seperti sekarang.
Production Planning and Inventory Control (PPIC) EM Gelato Blok M Joshua Firdaus mengatakan nama EM Gelato terinspirasi dari dua hal, yakni singkatan Blok M dan ekspresi "emm" yang biasa muncul ketika seseorang menikmati makanan enak.
EM Gelato menawarkan sekitar 18 varian rasa gelato, mulai dari pistachio, triple chocolate, hingga salted butter caramel. Harga gelato dijual mulai Rp38 ribu untuk dua scoop dalam cup ukuran kecil.
Joshua mengatakan konsep usaha mereka memang menyasar anak muda dengan harga yang lebih terjangkau dibanding gelato premium lainnya.
"Brandingnya dibuat lebih ke anak muda, dan dari range harga lebih ke menengah atau bawah. Jadi semua kalangan bisa menikmati," kata Joshua.
Joshua juga menilai Blok M kini semakin nyaman dikunjungi karena aksesnya yang mudah. Kawasan itu terhubung dengan halte TransJakarta, stasiun MRT Blok M, hingga ruang publik seperti Taman Literasi yang ramai didatangi anak muda selepas jam kerja.
Selain itu, menurut Joshua, Blok M kini terasa jauh lebih tertata dibanding beberapa tahun lalu. Hal itu membuat pengunjung semakin nyaman untuk datang dan menghabiskan waktu di kawasan tersebut.
"Kalau sekarang rapi banget dan orang-orang lebih enak ke Blok M, lebih nyaman. Kalau dulu mungkin ada banyak parkir liar," ujarnya.
Meski begitu, meningkatnya popularitas Blok M juga membuat persaingan bisnis semakin ketat. Berbagai brand viral baru terus bermunculan dan membuat pasar pengunjung terbagi.
"Tantangannya pasti banyak brand baru. Sekarang sudah banyak banget brand-brand viral. Jadi pasarnya kebagi-bagi," kata Joshua.
Ia mengatakan akhir pekan masih menjadi waktu paling ramai bagi pengunjung. Pada musim libur panjang seperti Natal atau Lebaran, antrean bahkan bisa membludak.
Untuk bertahan di tengah persaingan, Joshua menilai pelaku usaha harus terus menghadirkan inovasi agar tetap menarik perhatian pengunjung.
"Kalau mau sustain, selalu inovasi. Menemukan yang unik, itu yang bikin orang penasaran," ujarnya.
(ins) Add
as a preferred source on Google
