Purbaya Kasih Bukti Ekonomi RI Tak Seburuk Narasi di Medsos
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengaku sempat berpikir kondisi ekonomi Indonesia benar-benar sedang bermasalah di tengah maraknya narasi pelemahan daya beli masyarakat di media sosial, meski pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 sebesar 5,61 persen.
Purbaya bahkan melakukan investigasi langsung terhadap berbagai data ekonomi untuk memastikan apakah kondisi ekonomi nasional memang berantakan seperti yang ramai dibicarakan warganet.
"Saya pikir juga ekonomi kita memang berantakan. Artinya mungkin pemerintah ngibulin masyarakat," ujar Purbaya saat panel diskusi dengan Chairman CT Corp Chairul Tanjung (CT) dalam acara Jogja Financial Festival, Jumat (22/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun setelah memeriksa sejumlah indikator ekonomi, ia menyebut kondisi di lapangan justru menunjukkan daya beli masyarakat masih cukup kuat. Contohnya, penjualan mobil yang pada April tumbuh 55 persen setelah sebelumnya turun pada Maret akibat faktor Lebaran.
Begitu juga data penjualan motor juga disebut naik 28 persen.
"Itu artinya ekonomi sehat, daya beli masih kuat," imbuhnya.
Selain itu, aktivitas logistik dan konsumsi energi juga disebut meningkat. Menurut dia, konsumsi semen, listrik dan bahan bakar minyak (BBM) masih menunjukkan tren pertumbuhan positif.
"Konsumsi semen tumbuhnya 36 persen. Penjualan listrik juga tumbuh kencang. Konsumsi BBM juga masih naik. Konsumsi masyarakat ya walaupun turun sedikit, trennya masih naik kencang. Artinya kelihatannya daya beli masyarakat nggak sejelek yang dikatakan," terang Purbaya.
Ia juga membantah anggapan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya ditopang belanja pemerintah, sementara konsumsi masyarakat melemah. Menurut dia, kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi tetap berasal dari konsumsi rumah tangga.
"Dari 5,61 persen pertumbuhan, 2,9 persen kontribusinya berasal dari konsumsi rumah tangga, 1,79 dari investasi dan 1,26 dari belanja pemerintah. Jadi belanja masyarakat kita masih kuat," katanya.
Purbaya menjelaskan kenaikan belanja pemerintah sebesar 21,8 persen pada awal tahun terjadi karena pemerintah mempercepat realisasi anggaran yang sebelumnya kerap menumpuk di akhir tahun. Ia menegaskan kondisi ekonomi yang sebenarnya harus dilihat dari data lapangan, bukan sekadar narasi negatif di media sosial.
"Kalau saya kan selalu lihat data di lapangan seperti apa. Saya ke Pasar Beringharjo di Jogja rame juga. Saya ke Tanah Abang rame juga," pungkasnya.
Lihat Juga :![]() JOGJA FINANCIAL FESTIVAL 2026 Bos BTN Bocorkan Strategi Agar Kaum Unbankable Bisa Punya Rumah |
as a preferred source on Google
