JOGJA FINANCIAL FESTIVAL 2026

Purbaya Jawab Isu Masyarakat Makin Susah di Balik Data Pertumbuhan BPS

CNN Indonesia
Jumat, 22 Mei 2026 12:48 WIB
Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa saat menyampaikan pemaparan dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY, Jumat (22/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Menkeu menjawab soal pertanyaan mengapa masyarakat makin sulit di balik data pertumbuhan ekonomi BPS (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Bantul, CNN Indonesia --

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjadi salah satu pembicara dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (22/5).

Dalam sesi yang dimoderatori oleh Chairman CT Corp Chairul Tanjung, pertanyaan seputar situasi ekonomi menjadi salah satu pembahasan.

CT menuturkan situasi yang dirasakan sebagian masyarakat berbeda dengan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa waktu lalu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

BPS melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61%. Kemudian inflasi rendah, tingkat pengangguran terbuka turun, dan angka kemiskinan juga demikian.

"Tapi yang dirasakan oleh masyarakat itu inflasi rendah tapi harga naik, yang dirasakan masyarakat cari kerja lebih sulit, PHK masih terjadi. Apa sebenarnya yang terjadi, terjadi semacam gap antara data statistik kita, dengan apa yang dirasakan masyarakat kita?," tanya CT.

Purbaya mengatakan dirinya bingung jika ada anggaran seperti itu di masyarakat.

"Setelah saya analisa lebih lanjut, ternyata itu kebanyakan adalah analisa ekonom di TikTok," katanya.

Purbaya lantas mengaku melakukan investigasi terhadap data-data yang disampaikan BPS. Ia menilai ada peningkatan penjualan mobil, motor, semen, listrik, dan bahan bakar minyak (BBM).

"Konsumsi masyarakat trennya masih naik kencang. Artinya kelihatannya daya beli masyarakat nggak sejelek yang dikatakan oleh ekonom-ekonom di TikTok," ujar Purbaya.

Mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan itu juga menjawab kritik bahwa pertumbuhan ekonomi didorong belanja pemerintah. Berdasarkan data BPS, pertumbuhannya mencapai 21,8%.

"Kenapa itu terjadi? Presiden memastikan bahwa semua belanja anggaran dibelanjakan merata sepanjang tahun. Jadi yang tadinya menumpuk di akhir tahun dimajukan ke depan sehingga di awal tahun tumbuh 21,8%," kata Purbaya.

(kum/asa) Add as a preferred
source on Google