Purbaya Blak-blakan Penyebab IHSG Anjlok usai Pengumuman BUMN Ekspor
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap alasan di balik anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) setelah pemerintah mengumumkan pembentukan badan ekspor baru untuk komoditas sumber daya alam (SDA).
Menurut Purbaya, pelaku pasar masih diliputi ketidakpastian sehingga memilih melepas saham lebih dulu sambil menunggu kejelasan dampak kebijakan tersebut.
Adapun IHSG ditutup melemah 174,14 poin atau 2,76 persen ke level 6.144 pada penutupan sesi I perdagangan Kamis (21/5). Sebanyak 601 saham terkoreksi, sementara hanya 118 saham menguat dan 94 saham stagnan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Purbaya mengatakan pelaku pasar saat ini masih mencoba membaca arah dan dampak pembentukan badan ekspor SDA terhadap emiten di bursa.
"Mungkin mereka belum tahu dampak sebenarnya seperti apa. Kan kalau ada ketidakpastian, biasanya takut jual dulu," kata Purbaya di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Kamis (21/5).
Meski begitu, ia meyakini pasar akan berbalik positif setelah investor memahami tujuan dan dampak kebijakan tersebut secara lebih rinci.
"Tapi kalau mereka nanti mengerti dampak yang sebetulnya seperti apa, harganya akan naik," ujarnya.
Purbaya menjelaskan salah satu tujuan pembentukan badan ekspor SDA adalah menutup celah praktik under invoicing atau pelaporan nilai ekspor lebih rendah dari nilai sebenarnya.
Menurut dia, selama ini sebagian keuntungan ekspor bisa mengalir ke perusahaan pemilik di luar negeri dan tidak sepenuhnya tercermin dalam laporan perusahaan terbuka di pasar modal.
"Sekarang bisa harusnya, terefleksi langsung di penjualan mereka yang murni. Jadi perusahaannya juga akan untung," katanya.
Ia menilai kondisi tersebut justru berpotensi meningkatkan valuasi emiten dalam jangka panjang.
"Jadi harusnya bisa double untungnya yang listed di bursa yang dilaporkan ya. Jadi harusnya ini akan meningkatkan valuasi dari perusahaan-perusahaan yang listed di bursa. Pasti pelan-pelan akan naik secara signifikan," ujar Purbaya.
Pandangan serupa disampaikan Chief Investment Officer Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia Pandu Sjahrir. Ia menyebut pasar membutuhkan kepastian terkait implementasi kebijakan baru tersebut.
"IHSG jatuh setelah pengumuman tentunya sama kalau IHSG, mereka kan juga, ini kan mereka perlu mencari certainty juga pengen tahu hasilnya," kata Pandu dalam kesempatan sama.
Meski demikian, Pandu optimistis pasar akan kembali pulih setelah arah kebijakan semakin jelas.
"Ya insyaallah pasti baik lah, kan kita pasti akan melihat market, market-nya penting optimis secepatnya," ujarnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mewajibkan ekspor sejumlah komoditas SDA strategis dilakukan melalui BUMN yang ditunjuk pemerintah sebagai eksportir tunggal. Kebijakan itu tertuang dalam Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam.
Komoditas yang masuk tahap awal kebijakan tersebut antara lain kelapa sawit, batu bara, dan paduan besi atau ferroalloys.
Pemerintah menyebut langkah itu ditujukan untuk memperkuat pengawasan ekspor sekaligus memberantas praktik under invoicing, transfer pricing, hingga pelarian devisa hasil ekspor.
Prabowo mengatakan implementasi kebijakan dilakukan bertahap mulai 1 Juni hingga 31 Agustus 2026 sebagai masa transisi. Selanjutnya, mulai 1 September 2026 seluruh transaksi ekspor dan impor dengan pembeli luar negeri akan dilakukan penuh melalui BUMN yang ditunjuk pemerintah.
as a preferred source on Google