Harga Minyak Amblas 2 Persen ke US$109 Usai Trump Tunda Serang Iran

CNN Indonesia
Selasa, 19 Mei 2026 09:47 WIB
Harga minyak mentah dunia anjlok lebih dari 2 persen ke US$109,15 per barel. hari ini (19/5), setelah Trump menunda rencana serangan terhadap Iran.
Harga minyak mentah dunia anjlok lebih dari 2 persen ke US$109,15 per barel. hari ini (19/5), setelah Trump menunda rencana serangan terhadap Iran. (Foto: iStock/zorazhuang)
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak mentah dunia anjlok lebih dari 2 persen pada hari ini, Selasa (19/5), setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menunda rencana serangan terhadap Iran.

Trump mengatakan akan menunda rencana serangan militer ke Iran menyusul permintaan dari sejumlah pemimpin penting Timur Tengah.

Langkah AS itu meredakan kekhawatiran akan eskalasi konflik yang dapat mengganggu pasokan minyak mentah global dalam waktu dekat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengutip oilprice.com, kontrak berjangka Brent turun lebih dari 2 persen menjadi US$109,15 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) amblas 1,27 persen menjadi US$107,28 per barel.

Kemarin, Trump mengumumkan membatalkan rencana serangan terjadwal terhadap Iran yang rencananya dilakukan hari ini. Opsi itu diambil setelah ara pemimpin negara Teluk antara lain Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA) mendesak Washington menundanya.

ING menyebut pasar minyak masih memperhitungkan gangguan pasokan berkepanjangan di Timur Tengah. Harapan bahwa China dapat membantu memediasi kemajuan dalam pembicaraan terbaru antara Trump dan Presiden China Xi Jinping ternyata tidak terwujud.

Analis dari perusahaan jasa keuangan tersebut mengatakan sebagian aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz mulai kembali berjalan, termasuk beberapa kapal tanker minyak mentah dan pengiriman minyak Irak menuju Vietnam.

Meski begitu, analis ING mengatakan arus pengiriman masih jauh di bawah level normal dan dapat kembali memburuk dengan cepat.

"Gangguan pasokan yang terus berlangsung membuat pasar sangat bergantung pada persediaan dan pasokan alternatif jika memungkinkan," tulis ING dikutip CNBC International.

[Gambas:Youtube]

(pta) Add as a preferred
source on Google